Artikel dari Kategori : Profil

Demokrasi Ala Orang Berotot

Ilpi Zukdi | Minggu, 14 Juni 2015 - 20:23:42 WIB | dibaca: 635 pembaca

 

Secara iseng-iseng pada waktu senggang di sore hore, saya duduk di depan Televisi untuk menonton suatu acara yang ditayangkan oleh Televisi swasta nasional berlangganan. Acara tersebut adalah Ultimate Fight Championship (UFC). Biasanya acara ini dimulai pada pukul 15.30 sampai 18.00 atau 18.30 sore. Acara bentuk yang sama ditayangkan oleh Televisi luar negeri pada pukul 15.00

UFC adalah tinju bebas, peserta rata-rata mempunyai banyak tato di badan, punggung, leher, tangan dan kaki, kecuali peserta dari negara-negara Balkan dan Maroko yang tidak memakai tato, karena sesuai dengan agamanya yang melarang penggunaan tato dan dia patuh dan taat pada agamanya. Disamping bertato, mempunyai fisik yang kekar, otot-otot tangan menonjol, bentuk beringas dan menyeramkan. Sebelum bertanding masing-masing melontarkan nada-nada ancaman  dengan istilah menghabisi, membunuh dan sebagainya.

UFC adalah tinju bebas dengan memakai sarung tangan seadanya dan tidak menutupi jari-jari tangan, sehingga kadangkala pada waktu melontarkan pukulan tidak jarang tertusuk mata sampai berdarah walaupun itu tidak dibolehkan, tapi itu terjadi tanpa disengaja. Dalam UFC boleh meninju, menyikut, menendang, membanting, menggunakan lutut, memiting, mencekik sampai lawan pingsan. Dan kalau sudah pingsan maka dinyatakan kalah.

Begitu ganasnya, begitu seramnya pertandingan ini, yang biasanya kalau untuk memperebutkan kejuaran berlangsung selama 5 ronde dengan durasi setiap ronde 3 menit, sedangkan untuk eksebishi hanya berlangsung sebanyak 3 ronde. Selama pertandingan berlangsung tidak jarang lawan ada yang patah tulang hidung, robek alis mata, patah kaki, patah tulang rusuk bahkan sampai ada yang pingsan.

Namun yang menarik bagi saya adalah, begitu kerasnya olah raga ini, tidak hanya sakit secara fisik namun juga pertarungan emosional yang menimbulkan sakit hati. Itu berlaku hanya selama pertandingan. Pada saat wasit mengumumkan pemenang, terlihat mereka memberi penghormatan kepada lawan, kepada wasit, juri dan penonton.

Bagi yang kalah, kalau juri sudah memutuskan lawan yang menang walaupun dia merasa mendominasi pertandingan dan yakin menang, dia menghormati putusan tersebut. Yang berakhir dengan pingsan setelah dia sadar langsung berdiri dan bersalam mengucapkan selamat serta berpelukan dan tidak jarang dilihat dia mengangkat lawannya tersebut. Begitu juga bagi yang terluka, kaki yang patah dan lain sebagainya. Yang menang memberi pelukan, ciuman kepada lawannya dan diterima oleh yang kalah dengan lapang dada, senyuman dengan kebesaran jiwa.

Jadi, pada saat juri sudah menentukan dan memutuskan pemenang yang diumumkan oleh ring announcer, mereka akan menerima tanpa caci maki, dendam, mencari-cari kesalahan lawan, protes dan sebagainya. Pertandingan selesai walaupun terluka, patah, pingsan hanya sebatas pertandingan 3 atau 5 ronde tersebut. Sebuah refleksi kebesaran jiwa yang ditunjukkan oleh orang-orang yang mengedepankan kekuatan otot.

Kekalahan disikapi dengan pikiran waras dan lego lilo, karena kekalahan akan melahirkan kemenangan. Menarik apa yang disampaikan oleh Al-Gore saat kalah melawan George Bush Jr pada pemilihan presiden Amerika Seriat tahun 2000 (walaupun  dia masing berpeluang menang jika ngotot meminta penghitungan suara ulang). :” kekalahan dan kemenangan dibutuhkan untuk memuliakan jiwa”.

Kekalahan bagi Al-Gore adalah sebuah kemenangan, jika kekalahan diterima dengan lapang dada serta dijadikan sebagai momentum introspeksi dan kontemplasi. Sampai sekarang mantan wakil presiden Bill Clinton ini tetap dikenang dan namanya harum dimata masyarakat Amerika Serikat.

Hal ini juga diperlihatkan oleh Hillary Rodham Clinton dari Kaukus Partai Demokrat Amerika Serikat. Pada saat dia bersaing dengan Barack Obama pada pemilihan presiden Amerika Serikat, Hillary mengalami kekalahan tipis. Apa yang dilakukan oleh Hillary, apakah dia memprotes, menghasut pendukungnya, mencari kelemahan lawan, melakukan fitnah atau mengembosi ?. ternyata tidak, akan tetapi bersama suaminya Bill Clinton malah giat berkampanye mendukung Obama.

Bagi Obama yang mendapat kemenangan juga tidak membuang Hillary, tidak saja mempromosikan sebagai wanita berpengaruh Numero Uno juga diangkat menjadi menteri luar negeri dan paling dikagumi oleh masyarakat Amerika Serikat selama 7 tahun berturut-turut. Walaupun kalah tidak membuat Hillary terpuruk dan kehilangan jati dirinya sebagai democrat sejati. Hasilnya, dia sukses mencatat berbagai kemenangan pada bidang lain. Paling tidak berhasil memenangkan hati (simpati) masyarakat Amerika Serikat.

Berbeda dengan nasib yang dialami oleh yang memperoleh kemenangan yaitu Bush Jr. Walaupun dulu menang, namun menurut penilaian Partai Republik tak lebih hanya seorang pecundang serta menjadi sebab kekalahan McCain-Palin, karena ketidakbecusannya menyebabkan perekonomian Amerika Serikat hancur.

Kekalahan atau kemenangan semua itu tergantung pada sikap dan mentalitas dalam menyikapinya. Kalaulah kekalahan memicu kemarahan, selain menghancurkan citra diri, juga merusak tatanan sosial dan system yang ada dan berlaku. Jika kekalahan membawa keputus asaan, niscaya akan menuai kekalahan lebih parah lagi.

Semua itu jawabannya tergantung pada kita masing-masing. Terus menerus meratapi kekalahan dan mencari-cari kambing hitam atau segera bersiap menikmati kemenangan pada etape berikutnya.

Dalam hal ini, kita dalam menyikapi kekalahan sering kalah dari orang yang menonjolkan otot sementara kita mengakui bahwa kita menonjolkan otak yang seharusnya lebih santun menerima kekalahan. Ataukah kita pura-pura saja menonjolkan otak ???? Wallahu ‘alam bin shawab

 

 

 

 

 

 



Baca Juga Berita Terkait dengan Artikel ini :