Artikel dari Kategori : Profil

Model Pembelajaran

Model Pendidikan

Ilpi Zukdi | Rabu, 23 November 2016 - 14:02:31 WIB | dibaca: 233 pembaca

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Pemikiran

Dalam proses pembelajaran, terdapat istilah model pembelajaran yang memiliki arti sebagai bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dari pengertian umum tentang Model pembelajaran tadi dapat dipahami bahwa model pembelajaran sangat penting dalam proses belajar mengajar.

Model pembelajaran memiliki peranan yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar. Misalnya dapat digunakan oleh guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Salah satu masalah dalam pembelajaran di sekolah adalah rendahnya hasil belajar siswa. Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dari dalam (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis dan psikologis (misalnya kecerdasan motivasi berprestasi dan kemampuan kognitif), sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah faktor lingkungan dan instrumental (misalnya guru, kurikulum, dan model pembelajaran).

Sering ditemukan di lapangan bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi karena kegiatan tersebut tidak didasarkan pada model pembelajaran tertentu sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa rendah.

Timbul pertanyaan apakah mungkin dikembangkan suatu model pembelajaran yang sederhana, sistematik, bermakna dan dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik sehingga dapat membantu meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar. Berkenaan dengan hal itu, maka dengan memperhatikan berbagai konsep dan teori belajar dikembangkanlah suatu model pembelajaran.

B.   Fokus Pembahasan

Fokus pembahasan dalam makalah ini adalah :

1.  Kajian tentang model, strategi dan pendekatan pembelajaran

2.  Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Pembelajaran

3.  Pola-pola Pembelajaran

4. Ciri-ciri Model Pembelajaran

5.              Model Pembelajaran Berdasarkan Teori

C.   Tujuan Pembahasan

Pembahasan makalah ini mempunyai tujuan untuk mengetahui tentang :

1.  Kajian tentang model, strategi dan pendekatan pembelajaran

2.  Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Pembelajaran

3.  Pola-pola Pembelajaran

4. Ciri-ciri Model Pembelajaran

5.              Model Pembelajaran Berdasarkan Teori

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.  Kajian Model, Strategi dan Pendekatan Pembelajaran

Model pembelajarandapat diartikan dengan istilah sebagai gaya atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Dalam penerapannya, gaya yang dilakukan tersebut mencakup beberapa hal strategi atau prosedur agar tujuan yang ingin dikehendaki dapat tercapai. Banyak para ahli pendidikan mengungkapkan berbagai pendapatnya mengenai pengertian model pembelajaran.

Model pembelajaran tidak terlepas dari kata strategi atau model pembelajaran identik dengan istilah strategi. Model pembelajaran dan strategi merupakan satu yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus beriringan, sejalan, dan saling mempengaruhi. Istilah strategi itu sendiri dapat diuraikan sebagai taktik atau sesuatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Menurut Sudjana (2000:5) strategi adalah :” suatu pola yang direncanakan  dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Sementara itu Sulistyono (dalam Trianto,2010:140) mendefinisikan strategi sebagai tindakan khusus yang dilakukan untuk mempermudah, mempercepat, lebih menikmati lebih mudah memahami secara langsung, lebih efektif dan lebih mudah ditransfer kedalam situasi yang baru.

Strategi menurut Kemp 1995 (dalam Masitoh dan Laksmi Dewi :37) adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapatnya Kemp, Dick and Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu perangkat materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada peserta didik atau siswa. Upaya mengimplementasikan rencana pembelajaran yang telah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun dapat tercapai secara optimal, maka diperlukan suatu metode yang digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, bisa terjadi satu strategi pembelajaran menggunakan beberapa metode. Misalnya, untuk melaksanakan strategi ekspositori bisa digunakan metode ceramah sekaligus metode tanya jawab atau bahkan diskusi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia termasuk menggunakan media pembelajaran. Oleh sebab itu, strategi berbeda dengan metode. Strategi lebih menunjukkan pada sebuahperencanaan atau yang biasa dikenal dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), tentu dengan maksud untuk mencapai sesuatu. sedangkan metode adalah suatu cara tersendiri yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Dengan kata lain, strategi adalah a plan of operation achieving something, sedangkan metode adalah a way in echieving something.

Disamping strategi dan model, pendekatan sering diartikan sama dengan strategi dan model tersebut, namun sebenarnya memiliki makna yang berbeda. Pengertian pendekatan (approach) dapat dipandang sebagai suatu rangkaian tindakan yang terpola atau terorganisir berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. yang terarah secara sistematis dengan maksud agar pada tujuan-tujuan yang hendak diinginkan dapat tercapai. Dengan demikian, pola tindakan tersebut dibangun di atas prinsip-prinsip yang telah dibuktikan kebenarannya, sehingga tindakan-tindakan yang diorganisir tersebut dapat berjalan secara konsisten ke arah ketercapaian tujuan yang diinginkan.

Dari pengertian di atas maka pendekatan mengandung sejumlah komponen atau unsur, yaitu tujuan, pola tindakan, metode atau teknik, serta sumber-sumber yang digunakan, dan prinsip-prinsip.

Sedangkan model-model pembelajaran sendiri biasanya disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran, teori-teori psikologis, sosiologis, analisis sistem, atau teori-teori lain yang mendukung (Joyce & Weil: 1980). Joyce & Weil mempelajari model-model pembelajaran berdasarkan teori belajar yang dikelompokkan menjadi empat model pembelajaran. Modeltersebut merupakan Pola Umum perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Joyce & Weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain (Joyce & Weil, 1980:1). Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.

B. Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Pembelajaran

Sebelum menentukan model pembelajaran yang akan digunakan da­lam kegiatan pembelajaran, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan guru dalam memilihnya, yaitu:

  1. Pertimbangan terhadap tujuan yang hendak dicapai. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan adalah:
  2. Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan kompetensi akademik, kepribadian, sosial dan kompetensi vokasional atau yang dulu diistilahkan dengan domain kognitif, afektif atau psikomotor?
  3. Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dica­pai?
  4. Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademik?

2.    Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembe­lajaran:

  1. Apakah materi pelajaran itu berupa fakta, konsep, hukum atau teori tertentu?
  2. Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat atau tidak?
  3. Apakah tersedia bahan atau sumber-sumber yang relevan untuk mempelajari materi itu?

3.    Pertimbangan dari sudut peserta didik atau siswa

  1. Apakah model pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan peserta didik?
  2. Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi peserta didik?
  3. Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan gaya belajar peserta didik?

4.    Pertimbangan lainnya yang bersifat nonteknis

  1. Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu model saja?
  2. Apakah model pembelajaran yang kita tetapkan dianggap satu-satunya model yang dapat digunakan?
  3. Apakah model pembelajaran itu memiliki nilai efektivitas atau efisiensi?

C.  Pola-pola Pembelajaran

Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu sebagai hasil dari pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan. Belajar bukan hanya sekadar menghapal, melainkan suatu proses mental yang terjadi dalam diri seseorang.

Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. Didasari oleh adanya perbedaan interaksi tersebut, maka kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan meng­gunakan berbagai pola pembelajaran.

Barry Morris (1963:11) mengklasifikasikan empat pola pembelajaran sebagai berikut.:

  1. Pola pembelajaran  tradisional 1,  yang terdiri dari tujuan; penetapan isi dan metode; guru; siswa
  2. Pola tradisional 2, bedanya guru dan media bersatu
  3. Pola pembelajaran guru dan media, bedanya guru dan media masing-masing berdiri sendiri.
  4. Pola pembelajaran bermedia. Bedanya  guru tidak ada dalam terlibat langsung, yang ada adalah media.

Pola-pola pembelajaran di atas memberikan gambaran bahwa seiring dengan pesatnya perkembangan media pembelajaran, baik software maupun hadrware, akan membawa perubahan bergesernya peranan guru sebagai penyampai pesan. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran. Siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai media dan sumber belajar, baik itu dari majalah, modul, siaran radio pembelajaran, televisi pembelajaran, media komputer atau yang sering kita kenal dengan pembelajaran berbasis komputer (CBL), baik model drill, tutorial, simulasi maupun instructional games ataupun dari internet. Sekarang ini atau di masa yang akan datang, peran guru tidak hanya sebagai pengajar (transmitter), tetapi ia harus mulai berperan sebagai director of learning, yaitu sebagai pengelola belajar yang memfasilitasi kegiatan belajar siswa melalui pemanfaatan dan optimalisasi berbagai sumber belajar. Bahkan, bukan tidak mungkin di masa yang akan datang peran media sebagai sumber informasi utama dalam kegiatan pembelajaran (pola pembelajaran bermedia), seperti halnya penerapan pembelajaran berbasis komputer (computer based instruction), di sini peran guru hanya sebagai fasilitator belajar saja.

  1. D.    Ciri-ciri Model Pembelajaran

Model Pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu. Sebagai contoh, model penelitian kelompok disusun oleh Herbert Thelen dan berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.
  2. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu, misalnya model berpikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berpikir induktif.
  3. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas, misalnya model Synectic dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam pelajaran mengarang.
  4. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: (1) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax); (2) adanya prinsip-prinsip reaksi; (3) sistem sosial; dan (4) sistem pendukung. keempat bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran.
  5. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak tersebut meliputi: (1) Dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur; (2) Dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang.
  6. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.
  7. E.    Model Pembelajaran Berdasarkan Teori

1. Model Interaksi Sosial

Model ini didasari oleh teori belajar Gestalt (field theory). Model Inte­raksi Sosial menitikberatkan hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat (learning to life together). Teori Pembelajaran Gestalt dirintis oleh Max Wertheimer (1912) bersama dengan Kurt Koffka dan W. Kohler, mengadakan eksperimen mengenai pengamatan visual dengan fenomena fisik. Percobaannya, yaitu memproyeksikan titik-titik cahaya (keseluruhan lebih penting daripada bagian).

Pokok pandangan Gestalt adalah objek atau peristiwa tertentu akan I dipandang sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasikan. Makna suatu  objek/peristiwa adalah terletak pada keseluruhan bentuk (gestalt) dan bukan bagian-bagiannya. Pembelajaran akan lebih bermakna bila materi diberikan secara utuh, bukan bagian-bagian.

Aplikasi Teori Gestalt dalam Pembelajaran adalah:

  1. Pengalaman (insight/tilikan). Dalam proses pembelajaran siswa hendaknya memiliki kemampuan insight, yaitu kemampuan me-ngenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek. Guru hendaknya mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan insight.
  2. Pembelajaran yang bermakna. Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait dalam suatu objek akan menunjang pembentukan pemahaman dalam proses pembelajaran. Content yang dipelajari siswa hendaknya memiliki makna yang jelas baik bagi dirinya maupun bagi kehidup-annya di masa yang akan datang.
  3. Perilaku bertujuan. Perilaku terarah pada suatu tujuan. Perilaku di samping adanya kaitan dengan SR-bond, juga terkait erat dengan tujuan yang hendak dicapai. Pembelajaran terjadi karena siswa memiliki harapan tertentu. Sebab itu pembelajaran akan berhasil bila siswa mengetahui tujuan yang akan dicapai.
  4. Prinsip ruang hidup (life space). Dikembangkan oleh Kurt Lewin (teori medan/field theory). Perilaku siswa terkait dengan lingkungan/ medan di mana ia berada. Materi yang disampaikan hendaknya memiliki kaitan dengan situasi lingkungan di mana siswa berada (kontekstual).

Model Interaksi Sosial ini mencakup strategi pembelajaran sebagai berikut :

  1. Kerja Kelompok, bertujuan mengembangkan keterampilan berperan serta dalam proses bermasyarakat dengan cara mengembangkan hubungan interpersonal dan discovery skills dalam bidang akademik.
  2. Pertemuan Kelas, bertujuan mengembangkan pemahaman mengenai diri sendiri dan rasa tanggung jawab. baik terhadap diri sendiri mau­pun terhadap kelompok.
  3. Pemecahan Masalah Sosial atau Social Inquiry, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah-masalah sosial dengan cara berpikir logis.
  4. Bermain Peranan, bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik menemukan nilai-nilai sosial dan pribadi melalui situasi tiruan.
  5. Simulasi Sosial, bertujuan untuk membantu siswa mengalami berbagai kenyataan sosial serta menguji reaksi mereka.

Model Interaksi Sosial ini mencakup strategi pembelajaran sebagai berikut:

  1. Kerja Kelompok, bertujuan mengembangkan keterampilan berperan serta dalam proses masyarakat dengan cara mengembangkan hubungan interpersonal dan discovery skills dalam dang akademik.
  2. Pertemuan Kelas, bertujuan mengembangkan pemahaman mengenai diri sendiri dan rasa tanggung jawab. baik terhadap diri sendiri mau­pun terhadap kelompok.
  3. Pemecahan Masalah Sosial atau Social Inquiry, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah-masalah sosial dengan cara berpikir logis.
  4. Bermain Peranan, bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik menemukan nilai-nilai sosial dan pribadi melalui situasi tiruan.
  5. Simulasi Sosial, bertujuan untuk membantu siswa mengalami berbagai kenyataan sosial serta menguji reaksi mereka.

 

  1. 2.   Model Pemrosesan Informasi

Model ini berdasarkan teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi ada kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki emampuannya. Pemrosesan Informasi merujuk pada cara mengum-ulkan/menerima stimuli dari lingkungan mengorganisasi data, bemecahkan masalah, menemukan konsep dan menggunakan simbol verbal dan visual. Teori pemrosesan informasi/kognitif dipelopori oleh Robert Gagne (1985). Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.

Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang kemudian [diolah sehingga menghasilkan output dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara kondisi internal (keadaan individu, proses kognitif) dan kondisi-kondisi eksternal (rangsangan [dari lingkungan) dan interaksi antarkeduanya akan menghasilkan hasil belajar. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalities) yang terdiri dari: (1) informasi verbal; (2) kecapakan intelektual; (3) strategi kognitif; (4) sikap; dan (5) kecakapan motorik.

Delapan fase proses pembelajaran menurut Robert M. Gagne adalah:

  1. Motivasi, fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan tententu (motivasi intrinsik dan ekstrinsik).
  2. Pemahaman, individu menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari pembelajaran. Pemahaman didapat melalui perha-tian.
  3. Pemerolehan, individu memberikan makna/mempersepsi segala informasi yang sampai pada dirinya sehingga terjadi proses penyim-panan dalam memori siswa.
  4. Penahanan, menahan informasi/hasil belajar agar dapat digunakan untuk jangka panjang. Proses mengingat jangka panjang.
  5. Ingatan Kembali, mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan, bila ada rangsangan.
  6. Generalisasi, menggunakan hasil pembelajaran untuk keperluanl tertentu.
  7. Perlakuan, Perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasilI pembelajaran.
  8. Umpan Balik, individu memperoleh/eecffcacfe dari perilaku yang telah dilakukannya.

Ada Sembilan Langkah yang harus diperhatikan pendidik di kelasl berkaitan dengan pembelajaran pemrosesan informasi.

  1. Melakukan tindakan untuk menarik perhatian siswa.
  2. Memberikan informasi mengenai tujuan pembelajaran dan topik yangl akan dibahas.
  3. Merangsang siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran.
  4. Menyampaikan isi pembelajaran sesuai dengan topik yang telah telah direncanakan.
  5. Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.
  6. Memberikan penguatan pada perilaku pembelajaran.
  7. Memberikan feedback terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa.
  8. Melaksanakan penilaian proses dan hasil.

i.     Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menjawab|
berdasarkan pengalamannya.

Model Proses Informasi ini meliputi beberapa strategi pembelajaran, di antaranya:

  1. Mengajar Induktif, yaitu untuk mengembangkan kemampuan ber-j pikir dan membentuk teori.
  2. Latihan Inquiry, yaitu untuk mencari dan menemukan informasi yang| memang diperlukan.
  3. Inquiry Keilmuan, bertujuan untuk mengajarkan sistem penelitian] dalam disiplin ilmu, dan diharapkan akan memperoleh pengalamanl dalam domain-domain disiplin ilmu lainnya.
  4. Pembentukan Konsep, bertujuan untuk mengembangkan kemam-j puan berpikir induktif, mengembangkan konsep, dan kemampuanj analisis.
  5. Model Pengembangan, bertujuan untuk mengembangkan intelegensi umum, terutama berpikir logis, aspek sosial dan moral.
  6. Advanced Organizer Model, bertujuan untuk mengembangkan ke­mampuan memproses informasi yang efesien untuk menyerap dan menghubungkan satuan ilmu pengetahuan secara bermakna.

Implikasi Teori Belajar Kognitif (Piaget) dalam pembelajaran di antaranya:

  1. Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena itu guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak. Anak akan dapat belajar dengan baik apabila ia mampu menghadapi lingkungan dengan baik.
  2. harus dapat membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan belajarnya sebaik mungkin. (fasilitator, ing ngarso sung tulado, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani).
  3. Bahan yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Beri peluang kepada anak untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.
  4. Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena itu guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak. Anak akan dapat belajar dengan baik apabila ia mampu menghadapi lingkungan dengan baik.
  5. Guru harus dapat membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan belajarnya sebaik mungkin. (fasilitator, ing ngarso sung tulado, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani).
  6. Bahan yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Beri peluang kepada anak untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.

3.    Model Personal (Personal Models)

Model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu berorientasi terhadap pengembangan diri individu. Perhatian utamanya pada emosional siswa untuk mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Model ini menjadikan pribadi siswa yang mampu mem-bentuk hubungan yang harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif.

Model ini juga berorientasi pada individu dan perkembangan keakuan. Tokoh humanistik adalah Abraham Maslow (1962), R. Rogers, C. Buhler, dan Arthur Comb. Menurut teori ini, guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar siswa merasa bebas dalam belajar dan mengembangkan dirinya, baik emosional maupun intelektual. Teori humanistik timbul sebagai gerakan memanusiakan manusia. Pada teori humanistik ini, pendidik seharusnya berperan sebagai pendorong, bukan menahan sensitifitas siswa terhadap perasaannya.

Implikasi teori humanistik dalam pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Bertingkah laku dan belajar adalah hasil pengamatan.
  2. Tingkah laku yang ada, dapat dilaksanakan sekarang (learning to do).
  3. Semua individu memiliki dorongan dasar terhadap aktualisasi diri.
  4. Sebagian besar tingkah laku individu adalah hasil dari konsepsinya sendiri.

Mengajar adalah bukan hal penting, tapi membelajarkan siswa adalah sangat penting (learn how to learn). Mengajar adalah membantu individu untuk mengembangkan suatu hubungan yang produktif dengan lingkungannya dan memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap.

Model pembelajaran personal ini meliputi strategi pembelajaran sebagai berikut :

  1. Pembelajaran non-direktif, bertujuan untuk membentuk kemampuan dan perkembangan pribadi (kesadaran diri, pemahaman, dan konsep diri).
  2. Latihan Kesadaran, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan inter­personal atau kepedulian siswa.
  3. Sintetik, untuk mengembangkan kreativitas pribadi dan memecahkan masalah secara kreatif.
  4. Sistem Konseptual, untuk meningkatkan kompleksitas dasar pribadi

4.    Model Modifikasi Tingkah Laku (Behavioral)

Model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik, yaitu bertujuan mengembangkan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement). Model ini lebih menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan perilaku yang tidak dapat diamati. Karakteristik model ini adalah dalam hal penjabaran tugas-tugas yang harus dipelajari siswa lebih efisien dan berurutan.

Ada empat fase dalam model modifikasi tingkah laku ini, yaitu:

  1. fase mesin pembelajaran (CAI dan CBI);
  2. penggunaan media;
  3. pengajaran berprograma (linear dan branching);
  4. operant conditioning dan operant reinforcement.

Implementasi dari model modifikasi tingkah laku ini adalah: mening­katkan ketelitian pengucapan pada anak, guru selalu perhatian tingkah laku belajar siswa, modifikasi tingkah laku anak yang kemampuan belajarnya rendah dengan memberikan reward, sebagai reinforcement pendukung, dan penerapan prinsip pembelajaran individual (individual learning) terhadap pembelajaran klasikal.

Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatad tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media. Model Pembelajaran adalah suatu rencana atau polayan dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajar panjang), merancang bahan- bahan pembelajaran, dan membimbing belajaran di kelas atau yang lain.

Model Pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli terten­tu.
  2. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu.
  3. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas.
  4. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: (a) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax); (b) adanya prinsip-prinsip reaksi; (c) sistem sosial; dan (d) sistem pendukung.
  5. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.

Ciri-ciri Model Pembelajaran

Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran secara khusus diantaranya adalah :

  1. Rasional teoritik yang logis yangdisusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
  2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar.
  3. Tingkah laku mengajar yang diperlukanagar model tersebut dapat dilaksanakandengan berhasil.
  4. Lingkungan belajar yang duperlukanagar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Seorang guru diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam proses pembelajaran yang dijalaninya. Menurut Sardiman A. M. (2004 : 165), guru yang kompeten adalah guru yang mampu mengelola program belajar-mengajar. Mengelola di sini memiliki arti yang luas yang menyangkut bagaimana seorang guru mampu menguasai keterampilan dasar mengajar, seperti membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan, menvariasi media, bertanya, memberi penguatan, dan sebagainya, juga bagaimana guru menerapkan strategi, teori belajar dan pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Colin Marsh (1996 : 10) yang menyatakan bahwa guru harus memiliki kompetensi mengajar, memotivasi peserta didik, membuat model instruksional, mengelola kelas, berkomunikasi, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasi. Semua kompetensi tersebut mendukung keberhasilan guru dalam mengajar.

Setiap guru harus memiliki kompetensi adaptif terhadap setiap perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan di bidang pendidikan, baik yang menyangkut perbaikan kualitas pembelajaran maupun segala hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi belajar peserta didiknya.

Kumpulan Model-Model Pembelajaran

Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya guru (pengajar) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia dan kondisi guru itu sendiri.

Berikut disajikan beberapa model pembelajaran untuk dipilih dan dijadikan alternatif:

  1. CL (Cooperative Learning)
  2. CTL (Contextual Teacing and Learning)
  3. RME (Realistic Mathematics Education)
  4. DL (Direct Learning)
  5. PBL (Problem Based Learning)
  6. Problem Solving
  7. Problem Posing
  8. OE (Open Ended)- Problem Terbuka
  9. Probing-Prompting
  10. Pembelajaran Bersiklus (Cycle Learning)
  11. Reciprocal Learning
  12. SAVI (Somatic-Auditory-Visualization-Intellectualy)
  13. TGT (Teams Game Tournament)
  14. VAK (Visualization, Auditing, Kinstetic)
  15. AIR (Auditory, Intellectuality, Repetition)
  16. TAI (Team Assisted Individuality)
  17. STAD (Student Team Achievement Division)
  18. NHT (Numbered Head Together)
  19. Jigsaw
  20. TPS (Think Pair Share)
  21. GI (Group Investigation)
  22. MEA (Mean ands Analysis)
  23. CPS (Creative Problem Solving)
  24. TTW (Thing Talk Write)
  25. TS-TS (Two Stay-Two Stray)
  26. CORE (Connection, Organizing, Reflecting, Extending)
  27. SQ3R (Survey, Question, Recite, Review)
  28. SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)
  29. MID (Meaningful Instructional Design)
  30. KUASAI
  31. CRI (Certainly of Response Index)
  32. DLPS (Double Loop Problem Solving)
  33. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)
  34. CIRC (Cooperative, Integrated, Reading and Compositon)
  35. IOC (Inside Outside Circle)
  36. Tari Bambu
  37. Artikulasi
  38. Debate
  39. Role Playing
  40. Talking Stick
  41. Snowball Throwing
  42. Student Fasilitator ang Explaining
  43. Course Review Horay
  44. Demonstration
  45. Explicit Instruction
  46. Scramble
  47. Pair Checks
  48. Make-A-Match
  49. Mind Mapping
  50. Examples non Examples
  51. Picture and Picture
  52. Cooperative Script
  53. LAPS-Heuristik
  54. Improve
  55. Generatif
  56. Circuit Learning
  57. Complete Sentence
  58. Concept Sentence
  59. Time Token
  60. Take and Give
  61. Superitem
  62. Hibrid
  63. Treffinger
  64. Kumon
  65. Quantum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Hamalik. Oemar. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sys-tem.Jakarta : Bumi Aksara

Muhaimin 2006. . Paradigma Pendidikan Islam. Bandung : Rosda

Ngalimun, 2012.  Strategi dan Model Pembelajaran. Banjarmasin. Scripta Cendekia.

Reiggeluth. Charles.1983. Instructional Design Theories and Models. New jersey : Lawrence Erbaum Asociates.

Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran.Jakarta : Radja Grafindo Persada

Trimo, Lavyanto. 2006.  Model-Model Pembelajaran Inovatif. Bandung :Citra Praya

Wilis. Ratna. 1988. Teori-teori Belajar. Jakartta : P&K

 



Baca Juga Berita Terkait dengan Artikel ini :