Artikel dari Kategori : Profil

Design Pembelajaran

Pembelajaran Termotivasi

Ilpi Zukdi | Minggu, 16 Oktober 2016 - 11:36:40 WIB | dibaca: 315 pembaca

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Istilah belajar dan pembelajaran merupakan suatu istilah yang memiliki  keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses pendidikan. Pembelajaran yang sesungguhnya merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana ataumemberikan pelayanan agar siswa belajar. Untuk itu, harus dipahami  bagaimana Peserta didik memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka guru akan dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi siswanya. Perbedaan antara belajar dan pembelajaran terletak pada penekanannya. Pembahasan masalah belajar lebih menekankan pada bahasan tentang peserta didik dan proses yang menyertai dalam rangka perubahan tingkah lakunya. Adapun pembahasan mengenai pembelajaran lebih menekankan pada guru dalam upayanya untuk membuat peserta didik dapat belajar.

Salah satu tugas yang sangat penting dalam proses pembelajaran adalah memunculkan motivasi pada peserta didik sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Motivasi menurut Eysenck dkk (dalam Slameto:170) merupakan suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan, intensitas, konsistensi serta arah umum dari tingkah laku manusia, merupakan konsep yang rumit dan berkaitan dengan konsep-konsep lain seperti minat, konsep diri, sikap dan sebagainya. Oleh karena itu, motivasi merupakan pendorong bagi peserta didik dalam melakukan aktifitas.

Untuk membahas peranan motivasi dalam pembelajaran tersebut, maka makalah ini akan membahas tentang pembelajaran yang bermuatan motivasi.

B. Fokus Pembahasan

Pembahasan dalam makalah ini akan difokuskan kepada :

1. Motivasi dan kaitannya dengan minat

2.  Topik-topik, teori dan isu yang terkait dengan motivasi

3. Model Motivasional Desain Keller

4.  Kondisi-kondisi Belajar untuk minat dan motivasi berkelanjutan

5.  Kondisi internal dan eksternal

6.  Meningkatkan motivasi belajar

C. Tujuan Pembahasan

Untuk dari pembahasan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan dan menelaah tentang :

1. Motivasi dan kaitannya dengan minat

2.  Topik-topik, teori dan isu yang terkait dengan motivasi

3. Model Motivasional Desain Keller

4.  Kondisi-kondisi Belajar untuk minat dan motivasi berkelanjutan

5.  Kondisi internal dan eksternal

6.  Meningkatkan motivasi belajar

 BAB II

PEMBAHASAN

 

A.   Minat dan Motivasi

 

Minat dan motivasi sering dikorelasikan  dengan prestasi akademik sebagai kausalitas dalam keberhasilan atau kegagalan seseorang. Bahkan, ada pendidik berpendapat bahwa kegagalan seseorang untuk bekerja sesuai potensinya sebagian besar disebabkan kurangnya minat dan atau kurangnya motivasi. Untuk memperbaiki kekurangan minat atau motivasi, perencana pendidikan sering memberikan insentif untuk meningkatkan motivasi (misalnya, penghargaan dan pujian), memberikan pengaturan pendidikan yang "memotivasi" dan kondusif untuk belajar, serta mengembangkan bahan-bahan yang merangsang dan menyenangkan.  Hasil akhir yang diharapkan dari perencanaan tersebut adalah  meningkatnya kompetensi akademik dengan meningkatnya minat dan motivasi individu.

Minat dan motivasi, merupakan sarana untuk mewujudkan tujuan. Baik minat dan motivasi, bagaimanapun, sangat penting dan sebagai akhir pendidikan itu sendiri, sama pentingnya dengan prestasi akademik. Krathwohl et al. (1964) mengakui hal ini ketika mereka mengembangkan Taksonomi Affective.

Motivasi juga  diakui sebagai hasil dari perencanaan pembelajaran. Motivasi mengacu pada upaya yang berkelanjutan, kecenderungan bagi seorang individu untuk bekerja pada tugas tertentu atau tugas yang sama saat tidak berada di bawah pengaruh langsung dari instruktur, atau jauh dari konteks instruksional. motivasi menyiratkan bahwa individu secara sukarela memilih untuk mempertahankan atau mempertahankan aktivitas terhadap tugas selama periode waktu.

Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin movere yang berarti ”menggerakan”. Berdasarkan pengertian ini makna motivasi menjadi berkembang. Santrock (2011:510) menjelaskanmotivasi sebagai proses yang memberi semangat, arah dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Ormroad (2008:58) memberikan batasan motivasi dengan sesuatu yang menghidupkan (energize), mengarahkan  dan mempertahankan perilaku; memotivasi membuat siswa bergerak, menempatkan mereka dalam suatu arah tertentu dan menjaga mereka agar terus bergerak. Wolfolk (2009:186) memberikan definisi motivasi sebagai keadaan internal yang membangkitkan, mengarahkan dan mempertahankan  perilaku. Oleh karena itu menurut Wolfolk para psikolog yang mempelajari motivasi memfokuskan pada lima pertanyaan dasar yaitu :

a. Apa pilihan yang dibuat orang tentang perilakunya ?,

b. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulai ?,

c. Seberapa tinggi intensitas atau tingkat keterlibatan dalam kegiatan yang dipilih,

d. Apa yang menyebabkan orang bertahan atau menyerah,

e. Apa yang dipikirkan dan dirasakan individu selama terlibat dalam kegiatan itu ?.

Davies (1981:274) mengatakan :”motivation is a hidden forcce within us that causes us to be have in a certain way”. Pengertian motivasi menurut definisi ini adalah suatu kekuatan yang tersembunyi yang ada pada diri seseorang yang mendorongnya untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Lebih lanjut Davies menjelaskan bahwa motivasi itu kadang-kadang timbul dengan sendirinya atau timbul dari suatu keputusan yang rasional, tetapi tidak jarang timbulnya dari perpaduan antara keduanya, sehingga sebagian komponen motivasi tersusun secara naluriah dan sebagian lagi tersusun dari keadaan atau kemauan sendiri.

Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, motivasi adalah suatu yang urgen pada seseorang karena mendorong orang untuk berbuat dalam mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Kondisi ini digambarkan oleh Thoha (1993:21) sebagai berikut :

 

 

 

       
     
   
 

 

                                                            

 

           
   
     
 
     
 

 

 

 

 

 

 

Gambaran motivasi (Sumber: Thoha, 1993: 21)

Dari gambar di atas terlihat, untuk mencapai tujuan diaplikasikan dengan perilaku-perilaku atau aktivitas-aktivitas. Aktivitas yang dilakukan ada yang langsung ketujuan dan ada aktivitas yang mengarah kepada tujuan.

B.   Topik, Teori, dan IsuTerkait dengan Motivasi

Motivasi adalah membangun hipotetis yang luas mengacu pada kondisi internal dan eksternal yang mempengaruhi gairah, arah, dan pemeliharaan perilaku. Definisi motivasi yang sangat luas dan beragam, dan ide teoritis terkait dengan istilah tersebut rata-rata bervariasi dan beragam. Ball (1982) menyatakan bahwa, "Tidak ada teori dan penelitian terbaru yang mencakup dan mengintegrasikan semua konsep yang telah diusulkan dalam istilah payung` motivasi “.

Beberapa topik yang menarik perhatian terkait dengan motivasi : minat, rasa ingin tahu, harga diri, kecemasan, motivasi berprestasi, atribusi, tingkat aspirasi, teori penguatan, locus of control, motif kekuasaan, ketidakberdayaan belajar, kemajuan diri, dan harapan.

Istilah di atas berkaitan dengan studi motivasi dari perspektif individu, misalnya, bagaimana motivasi dipengaruhi oleh cara individu mengkarakterisasikan penyebab keberhasilan dan kegagalan nya, atau sesuai dengan harapan untuk pencapaian. Bagaimanapun, para ilmuan lainnya telah meneliti bagaimana struktur sosial sekolah, situasi serta dimensi yang mempengaruhi motivasi pribadi.

Garbarino (1981) menyarankan bahwa sekolah kecil memfasilitasi partisipasi aktif mendorong rasa tanggung jawab pribadi, dan akhir, untuk menjadi lebih personal. Guru memiliki lebih banyak kontak langsung dengan peserta didik, mengharapkan mereka untuk sukses, dan mendorong siswa secara langsung. Sekolah memiliki pengaruh positif terhadap motivasi.

Dari gambaran singkat di atas jelaslah bahwa,  studi tentang motivasi melibatkan sejumlah besar teori, topik, dan ide yang sangat luas. Beberapa diantaranya berkaitan dengan motivasi pada tingkat individu; sedangkan yang lainnya berhubungan lebih secara langsung pada pengaruh-pengaruh sosial dan lingkungan pada motivasi.

Beberapa langsung berhubungan dengan motivasi, pada tingkat individu, yang lain berhubungan lebih langsung terhadap pengaruh sosial dan lingkungan terhadap motivasi. Keller (1983), telah mengembangkan sebuah teori motivasi, performa, dan pengaruh instruksi yang mengintegrasi beragam dasar-dasar teori dan memberikan ‘resep’ strategi-strategi motivasi.

C.   Model Motivasional Desain Keller

Motivasi, menurut Keller (1983) “merujuk pada ukuran besarnya dan arah dari tingkah laku..... hal ini merujuk pada pilihan-pilihan yang dibuat seseorang sebagaimana pendekatan yang dilakukan atau dihindari akan sebuah pengalaman atau tujuan, dan tingkat usaha seperti apa yang akan ditekuni terhadap hal-hal tersebut” (hal.389). Teori motivasi Keller, performa, dan pengaruh-pengaruh instruksional menggunakan dua konsep ini, pilihan dan usaha, untuk menggambarkan (a) alasan yang dibuat atau dihindari seseorang dalam sebuah tugas, dan (b) bagaimana merancang instruksi agar sebuah tugas lebih menarik. Keller membedakan antara usaha, performa, dan konsekuensi sebagai berikut: performa adalah tanggapan atau respon perilaku aktual atau pencapaian; usaha merupakan aksi yang diarahkan terhadap penyelesaian tugas atau pencapaian; konsekuensi merupakan hasil intrinsik dan ekstrinsik yang digandengkan dengan penilaian kognitif yang mempengaruhi motivasi berkelanjutan.

Teori Keller sangat bergantung pada teori ‘nilai ekspektasi’, misalnya, bagaimana kebutuhan seorang individu, keyakinan, serta harapan-harapan nya mempengaruhi tingkah lakunya. Keller juga membahas peran dari penguatan atau dorongan terhadap motivasi. Dia merepresentasikan penguatan sebagai kombinasi efek dari konsekuensi-konsekuensi dan evaluasi dalam motivasi.

Mengiringi teori Keller adalah sebuah model motivasional desain yang terdiri dari empat kategori, yaitu: minat, relevansi, harapan, dan kepuasan. Keller juga menyiapkan strategi-strategi dalam menyelesaikan tujuan dari setiap kategori sebagaimana dijelaskan berikut:

1. Interest / Minat,

Minat merujuk pada pembangunan dan pemeliharaan rasa ingin tahu dan pencapaian tingkat optimal motivasi seorang pelajar. Keller menyiapkan strategi-strategi spesifik untuk meningkatkan rasa ingin tahu, seperti menggunakan masalah baru dan original, menuntun pertanyaan yang muncul pada area atau topik yang tidak biasa tapi tidak sepenuhnya juga tidak diketahui pelajar, serta menggunakan contoh personal dimana para pelajar tersebut memiliki ikatan emosional terhadap hal tersebut.

2. Relevansi,

Relevansi merujuk pada hubungan situasi belajar dengan kebutuhan serta motif pelajar. Keller dalam hal ini juga menyiapkan strategi-strategi untuk kebutuhan kekuatan, kebutuhan afiliasi, dan kebutuhan prestasi; selain itu juga memberikan atau menyiapkan kondisi bagi strategi nilai instrumental dan strategi nilai kultural. Beberapa strategi yang berkaitan dengan relevansi yaitu kesempatan-kesempatan untuk sukses sebagai hasil dari suatu usaha; peluang untuk kerjasama dan pilihan pribadi; membantu para pelajar dalam melihat hubungan suatu tujuan ke tujuan berikutnya; dan memfasilitasi dukungan kelompok kultural dan teman sejawat.

3. Harapan,

Ekspektasi atau harapan merujuk pada sebab-sebab yang menjadi ciri perilaku seseorang dan potensi dalam mengulang atau setidaknya melakukan pendekatan terhadap tugas yang sama. Tujuannya adalah untuk mengembangkan rasa percaya diri untuk sebuah kesuksesan. Konsep dari kontrol lokus, atribusi atau karakteristik, ketidaksanggupan belajar, dan penyebab pribadi mempunyai peran utama dalam kategori ekspektasi, dan hal-hal tersebut dapat dilihat dengan jelas dalam strategi-strategi. Misalnya, Keller menyarankan untuk mengkaitkan kesuksesan dengan personal atau diri sendiri, atribusi atau karakteristik internal, dan meningkatkan jumlah pengalaman-pengalaman sukses.

4. Kepuasan.

Konsep dari ‘luaran’ menjadi salah satu dari sekian banyak aspek yang menarik perhatian karena hal ini terkait erat dengan motivasi berkelanjutan, yang didefinisikan sebagai “motivasi untuk secara berkelanjutan mengejar tujuan-tujuan yang sama” (Keller, 1983, hal. 422). Keller menyarankan bahwa membangun motivasi intrinsik adalah kunci untuk mempertahankan motivasi, dan pemanfaatan penguatan atau dorongan eksternal dalam informasi mampu menyokong upaya ini.

Keller membuat daftar 5 strategi penting beserta penjelasannya. Strategi-strategi berikut yang bertujuan untuk:

1)        “Untuk memelihara kepuasan intrinsik dengan instruksi, gunakan penghargaan ‘tugas internal’, bukan ‘tugas eksternal’...”

2)        Untuk memelihara kepuasaan intrinsik dengan instruksi, gunakan hadiah atau ganjaran yang tak terduga, penghargaan yang tidak pasti, bukan penghargaan antisipasi, unggul, serta berbasis pada tugas (kecuali tugas yang bersifat ringan)

3)        Untuk memelihara kepuasaan intrinsik dengan instruksi, gunakan pujian verbal dan umpan balik atau feedback yang informatif, bukan ancaman, pengawasan, atau evaluasi performa atau kinerja eksternal .

4)        Untuk menjaga kualitas kinerja atau performa, gunakan umpan balik yang memotivasi untuk mengiringi respon . . .

5)        Untuk meningkatkan kualitas performa atau kinerja, siapkan umpan balik formatif (korektif) ketika hal tersebut bermanfaat, biasanya tepat sebelum pertemuan selanjutnya” (hal 424-427).

Model yang dikembangkan oleh Keller dan Kopp dalam merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi dan hasil belajar di kenal dengan model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction). Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari dua komponen tersebut oleh Keller dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran itu adalah attention, relevance, confidence dan satisfaction dengan akronim ARCS (Keller dan Kopp, 1987: 289-319).

Model pembelajaran ARCS adalah suatu bentuk pembelajaran yang mengutamakan perhatian siswa, menyesuaikan materi pembelajaran dengan pengalaman belajar siswa, menciptakan rasa percaya diri dalam diri siswa, dan menimbulkan rasa puas dalam diri siswa tersebut. Model pembelajaran ini menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori dan pengalaman nyata intsruktur sehinga mampu membangkitkan semangat belajar siswa secara optimal dengan memotivasi diri siswa sehingga didapatkan hasil belajar yang optimal.

Komponen model pembelajaran ARCS tersebut yaitu sebagai berikut :

1.  Attention (perhatian)

Perhatian adalah bentuk pengarahan untuk dapat berkonsultasi/ pemusatan pikiran  dalam menghadapi siswa dalam peristiwa proses belajar mengajar di kelas.

Menurut Keller (1987) strategi untuk menjaga dan meningkatkan perhatian siswa yaitu sebagai berikut :

  1. Gunakan metode penyampaian dalam proes pembelajaran yang bervariasi (kelas, diskusi kelompok, bermain peran, simulasi, curah pendapat, demontrasi, studi kasus).
  2. Gunakan media (media pandang, audio, dan visual) untuk melengkapi penyampaian materi pembelajaran.
  3. Bila merasa tepat gunakan humor dalam proses pembelajaran.
  4. Gunakan peristiwa nyata, dan contoh-contoh untuk memperjelas konsep yang digunakan.
  5. Gunakan teknik bertanya untuk melibatkan siswa.

 2. Relevance (relevan)

Relevance yang dimaksud di sini dapat diartikan sebagai keterkaitan atau kesesuaian antara materi pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman belajar siswa. Dari keterkaitan atau kesesuaian ini otomatis dapat menumbuhkan motivasi belajar di dalam diri siswa karena siswa merasa bahwa materi pelajaran yang disajikan mempunyaai manfaat langsung secara pribadi dalam kehidupan sehari-hari siswa. Motivasi siswa akan bangkit dan berkembang apabila mereka merasakan bahwa apa yang dipelajari itu memenuhi kebutuhan pribadi, bermanfaat serta sesuai dengan nilai yang diyakini atau dipegangnya.suciati dan udin syarifuddin winatasyaputra (R. Angkowo dan A. Kosasi, 2007:40-41) mengemukaan bahwa strategi untuk menunjukan relevensi adalah sebagai berikut :

  1. Sampaikan kepada siswa apa yang dapat mereka peroleh dan lakukan setelah mempelajari materi pembelajaran ini berarti guru harus menjelaskan tujuan intruksional.
  2. Jelaskan manfaat pengetahuan, keterampilan atau sikap serta nilai yang akan dipelajari dan bagaimana hal tersebut dapat diaplikasikan dalam pekerjaan dan kehidupan nanti.

c.     Berikan contoh, latihan atau tes yang lansung berhubungan dengan kondisi siswa.

3. Confidence (percaya diri)

Demi membangkitkan kesadaran yang kuat di dalam proses belajar mengajar siswa yang selama ini lebih banyak dikuasai guru (teacher’s centered) dan lebih memproduk penghafal kata-kata bukan pada kemampuan bagaimana belajar dan akhirnya setelah siswa tamat tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak ada kemampuan “problem solving” di tengah masyarakat yang plural heterogen dan banyak masalah, maka guru harus menggunakan strategi yang efektif.

Menurut Keller (1987) strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa adalah sebagai berikut :

  1. Meningkatkan harapan siswa untuk berhasil dengan memperbanyak pengalaman siswa, misal dengan menyusun materi pembelajaran agar dengan mudah difahami, di urutkan dari materi yang mudah ke sukar. Dengan demikian, siswa  merasa mengalami keberhasilan sejak awal proses pembelajaran.
  2. Susunlah kegiatan pembelajaran ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak dituntut untuk mempelajari terlalu banyak konsep baru dengan sekaligus
  3. Meningkatkan harapan untuk berhasil, hal ini dapat dilakukan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dan kriteria tes pada awal pembelajaran. Hal ini akan membantu siswa mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang diharapkan.
  4. Meningkatkan harapan untuk berhasil dengan menggunakan strategi yang memungkinkan kontrol keberhasilan di tangan siswa sendiri.
  5. Tumbuh kembangkan kepercayaan diri siswa dengan menganggap siswa telah memahami konsep ini dengan baik serta menyebut kelemahan siswa sebagai hal-hal yang masih perlu dikembangkan.
  6. Berilah umpan balik yang relevan selama proses pembelajaran agar siswa mengetahui pemahaman dan prestasi belajar mereka sejauh ini

4. Satisfaction (kepuasan)

Kepuasan yang dimaksud di sini adalah perasaan gembira, perasaan ini dapat menjadi positif yaitu timbul kalau orang mendapatkan penghargaan terhadap dirinya. Perasaan ini dapat meningkat kepada perasaan percaya diri siswa nantinya dengan membangkitkan semangat belajar diantaranya dengan :

  1. Mengucapkan “baik”, “bagus” dan seterusnya bila peserta didik menjawab /mengajukan pertanyaan.
  2. Memuji dan memberi dorongan, dengan senyuman, anggukan dan pandangan yang simanatik atas partisipasi siswa.
  3. Memberi tuntunan pada siswa agar dapat memberi jawaban yang benar.
  4. Memberi pengarahan sederhana agar siswa memberi jawaban yang benar.

Langkah-langkah model pembelajaran ARCS adalah sebagai berikut:

a.    Mengingatkan kembali siswa pada konsep yang telah dipelajari

Pada langkah ini, guru menarik perhatian siswa dengan cara mengulang kembali pelajaran atau materi yang telah dipelajari siswa dan mengaitkan materi tersebut dengan materi pelajaran yang akan disajikan. Dengan cara ini, siswa akan merasa tertarik serta termotivasi untuk memperoleh pengetahuan yang baru yaitu materi pelajaran yang akan disajikan.

b.    Menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran (R)

Pada langkah ini, guru mendeskripsikan tujuan dan manfaat pembelajaran yang akan disajikan. Penyampaian tujuan dan manfaat pembelajaran ini dapat dilakukan dengan cara yang bervariasi tapi masih tetap mengacu pada prinsip perbedaan individual siswa sehingga keseluruhan siswa dapat menangkap tujuan dan manfaat pembelajaran yang akan disajikan serta dapat mengetahui hubungan atau keterkaitan antara materi pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman belajar siswa tersebut.

c.    Menyampaikan materi pelajaran (R)

Pada langkah ini, guru menyampaikan materi pembelajaran secara jelas dan terperinci. Penyampaian materi ini dilakukan dengan cara atau strategi yang dapat memotivasi siswa yaitu dengan cara menyajikan pembelajaran tersebut dengan menarik sehingga dapat menumbuhkan atau menjaga perhatian siswa; memberikan keterkaitan antara materi pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman belajar siswa ataupun berhubungan dengan kehidupan sehari-hari siswa; menumbuhkan rasa percaya diri siswa dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, memberikan tanggapan, ataupun mengerjakan soal/latihan; dan menciptakan rasa puas di dalam diri siswa dengan cara memberikan penghargaan atas kinerja atau hasil kerja siswa.

d.    Menggunakan contoh-contoh yang konkrit (A dan R)

Pada langkah ini, guru memberikan contoh-contoh yang nyata serta ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari siswa sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran. Adapun manfaat yang didapatkan dari penggunaan contoh yang konkrit ini adalah siswa mudah memahami materi yang disajikan dan mudah mengingat materi tersebut. Tujuan penggunaan contoh yang konkrit ini adalah untuk menumbuhkan atau menjaga perhatian siswa (attention) dan memberikan kesesuaian antara pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman belajar siswa ataupun kehidupan sehari-hari siswa (relevance).

e.    Memberi bimbingan belajar (R)

Pada langkah ini, guru memotivasi dan mengarahkan siswa agar lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran yang disajikan. Secara langsung, langkah ini dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa sehingga siswa tidak merasa ragu dalam memberikan respon ataupun mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan oleh guru. Pemberian bimbingan belajar ini juga bermanfaat bagi siswa-siswa yang lambat dalam memahami suatu materi pembelajaran sehingga siswa-siswa tersebut merasa termotivasi untuk memahami materi pembelajaran yang disajikan.

f.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam pembelajaran (C dan S)

Pada langkah ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, menanggapi, ataupun mengerjakan soal-soal mengenai materi pembelajaran yang disajikan. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi ini, siswa akan berkompetensi secara sehat dan aktif dalam mengikuti pembelajaran. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk berparisipasi dalam pembelajaran ini juga dapat menumbuhkan ataupun meningkatkan rasa percaya diri siswa dan akhirnya juga dapat menimbulkan rasa puas di dalam diri siswa karena merasa ikut terlibat dalam proses pembelajaran tersebut.

g.    Memberi umpan balik (S)

Pada langkah ini, guru memberikan suatu umpan balik yang tentunya dapat merangsang pola berfikir siswa. Setelah pemberian umpan balik ini, siswa secara aktif menanggapi feedback dari guru tersebut. Pemberian feedback ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa dan menimbulkan rasa puas dalam diri siswa.

h.    Menyimpulkan setiap materi yang telah disampaikan di akhir pembelajaran (S)

Pada langkah ini, guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru saja disajikan dengan jelas dan terperinci. Langkah ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara diantaranya memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk membuat kesimpulan tentang materi yang baru mereka pelajari dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Secara tidak langsung, langkah ini dapat menciptakan rasa puas di dalam diri siswa.

D.   Kondisi-kondisi Belajar untuk minat dan motivasi berkelanjutan

Baik Keller (1983) maupun Krathwohl dkk (1964) menggunakan konsep minat dalam hubungannya dengan motivasi berkelanjutan. Krathwohl dkk berpendapat bahwa semua objektif dimana terdapat fenomena (tingkat pertama dari “Receiving” atau “Menerima”) untuk mengikuti dengan jelas sebuah fenomena (tingkat kedua dari “Valuing” atau “Menilai”) merepresentasikan tujuan-tujuan “minat” (lihat figur 3-1).

Keller (1983) juga menggunakan istilah minat dalam model motivasional desain. Ini merupakan konsep motivasi pertama yang dibahasnya. Keller mendeskripsikan rasa ingin tahu epistemik sebagai elemen kunci dari minat. Rasa ingin tahu epistemik “merujuk pada pencarian informasi dan pemecahan masalah tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari stimulasi rasa ingin tahu” (hal. 399). Konsep ini tampaknya terkait erat dengan atau merupakan sebuah langkah awal dalam menjaga motivasi; hal ini juga paralel dengan tujuan-tujuan yang diajukan Krathwohl dkk dimana para siswa secara sukarela terlibat dalam mengejar atau mencari suatu fenomena. Salah satu strategi yang diajukan Keller untuk merangsang serta menjaga rasa ingin tahu yaitu, dengan memberi kesempatan bagi siswa untuk belajar lebih terkait topik-topik yang sudah mereka ketahui atau percaya, dan memberi mereka pengalaman akan sesuatu yang tidak terduga dan tidak biasa. Strategi tersebut melibatkan penyediaan informasi dalam ruang lingkup penerimaan siswa, dan dengan perkiraan suksesif, membawa seorang individu keluar dari ruang lingkup penerimaan, misalnya, memberi mereka takaran moderat terhadap sesuatu yang tidak terduga dan tidak biasa” (Keller, 1983, hal.402).

Strategi-strategi lainnya yang diungkapkan Keller untuk memelihara rasa ingin tahu adalah:

1)        Menyediakan contoh-contoh dari masyarakat sesungguhnya dan masalah hidup yang nyata.

2)        Menyediakan komponen personal atau emosional dalam latihan-latihan serta materi.

3)        Menggunakan peristiwa atau situasi yang ambigu, original, dan bersifat paradoks.

Keller juga membahas nilai instrumental sebagaimana hal ini terkait dengan motivasi berkelanjutan. Nilai instrumental “merujuk pada peningkatan dalam motivasi untuk mencapai tujuan terdekat ketika hal ini dianggap sebagai suatu langkah yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan dimasa yang akan datang” (hal.408).  Keller mengungkapkan bahwa penjelasan yang jelas dan nyata atas bagaimana sebuah tujuan berhubungan dengan yang lainnya dan bagaimana pencapaian sebuah tujuan dapat menuntun kita pada pencapaian tujuan masa depan yang diinginkan, akan memiliki dampak pada motivasi berkelanjutan.

Ekpektasi atau harapan untuk sukses juga akan menuntun pada motivasi yang terpelihara (Keller, 1983). Para siswa yang merasa bahwa mereka memiliki kontrol pribadi terhadap kesuksesan suatu penyelesaian sebuah tugas dan percaya bahwa kesuksesan mereka berkaitan dengan kemampuan personal serta usaha, akan cenderung tekun lebih lama dari pada mereka yang merasa bahwa mereka memiliki kontrol yang sedikit, atau mereka yang percaya bahwa kesuksesan mereka adalah karena faktor-faktor eksternal.

Pada akhirnya, kepuasan intrinsik merupakan kunci untuk mengembangkan dan menjaga motivasi (Keller, 1983). Hal ini bergandengan dengan penguatan yang bertujuan untuk menyediakan informasi daripada mengontrol pelajar yang akan menuntun pada motivasi terpelihara. Pada bagian awal, kita memerinci beberapa strategi-strategi kunci yang diberikan oleh Keller untuk menjaga kepuasan intrinsik. Strategi-strategi tersebut diuraikan kembali dalam bentuk berbeda pada bagian dibawah ini yang memerinci kondisi eksternal belajar.

Sebagai kesimpulan, implikasi-implikasi edukasional yang paling menjadi perhatian pada bagian ini yaitu tentang memelihara minat dan motivasi berkelanjutan. Kita fokus pada konsep-konsep rasa ingin tahu epistemik, nilai instrumental, ekspektasi untuk sukes, dan kepuasan intrinsik. Dengan menggunakan konsep ini, kita sekarang akan mempresentasikan kondisi belajar dan kaitannya dengan minat dan motivasi berkelanjutan.

E.   Kondisi-kondisi Internal dan eksternal

1. Kondisi-kondisi internal

Kondisi-kondisi internal untuk minat dan motivasi berkelanjutan meliputi:

  1. Kemampuan intelektual dan informasi verbal yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan pada tugas-tugas yang mana tujuannya adalah untuk meningkatkan motivasi bagi pembelajaran lebih lanjut.
  2. Kemampuan kognitif yang memungkinkan para pelajar membedakan antara sebab-sebab internal dan eksternal. Sebagai contoh, anak-anak terkadang tidak mampu membedakan antara yang mana yang kemampuan dan usaha.
  3. Kemampuan membedakan ganjaran atau reward dan bukan ganjaran, dan/atau kemampuan memberikan contoh-contoh penghargaan pribadi.

2. Kondisi-kondisi Eksternal

  1. Mengajarkan siswa cara untuk menghargai diri mereka dalam menyelesaikan sebuah tugas atau pekerjaan.
  2. Mendemonstrasikan cara menyesuaikan tugas-tugas atau pekerjaan dengan kebutuhan nilai-nilai serta kebutuhan pribadi sekarang dan masa depan.
  3. Mendiskusikan berbagai cara untuk memotivasi diri sendiri untuk melakukan tugas-tugas atau pekerjaan yang tidak menyenangkan. Misalnya, menunjukkan pada siswa bagaimana cara menghubungkan tugas yang tidak dikehendaki dengan kebutuhan masa yang akan datang, keinginan, dan kehendak; menunjukkan siswa bagaimana caranya membagi tugas atau pekerjaan yang besar atau banyak kedalam unit-unit kecil, dan memperkuat setiap langkah yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tersebut.
  4. Menggunakan kelas sebagai jalan untuk mendemonstrasikan pada siswa cara untuk mengaplikasikan prinsip Premack dalam kegiatan belajar mereka sendiri, yaitu dengan cara memberi penghargaan bagi diri mereka dengan kegiatan yang disukai setelah menyelesaikan suatu kegiatan atau tugas yang tidak disukai.
  5. Memberi kesempatan-kesempatan bagi siswa untuk melanjutkan sebuah tugas pada waktu dan tempat yang jauh dari situasi atau lingkungan belajar sesungguhnya serta memperkuat usaha-usaha untuk tugas selanjutnya.
  6. Menggunakan ganjaran atau reward dan penguatan yang secara natural mengikuti tugas, bukan penguatan yang tidak ada hubungannya sama sekali atau minimal berkaitan dengan tugas (misalnya, menggunakan penghargaan tugas berbasis internal, bukan eksternal; Keller, 1983).
  7. Menggunakan aspek informasional, bukan aspek kontrol akan sebuah penghargaan (Keller, 1983).
  8. Menggunakan atau memanfaatkan penghargaan yang tidak terduga serta pujian verbal untuk menjaga motivasi.
  9. Menghubungkan kesuksesan dengan sifat atau karakteristik pribadi (kemampuan dan usaha).
  10. Memberi kesempatan-kesempatan untuk mengontrol kesuksesan dalam situasi belajar.
  11. Memberi berbagai kesempatan untuk terlibat lebih jauh lagi dengan topik-topik yang sudah diketahui atau dipercaya siswa.
  12. Meningkatkan disonansi untuk merangsang minat dan motivasi berkelanjutan dengan cara:

           (a)   memberikan informasi sedikit di luar "jangkauan penerimaan",

           (b)   memanfaatkan situasi-situasi atau peristiwa-peristiwa yang original dan tidak terduga, dan

           (c)   menggunakan materi-materi dan situasi-situasi pribadi serta materi dan situasi emosional.

F.    Meningkatkan Motivasi Belajar

Di dalam kehidupan terdapat banyak faktor yang mempengaruhi manusia untuk melakukan sesuatu. Faktor-faktor ini dapat muncul dari dalam maupun dari luar diri seseorang. Hal yang sama juga terjadi dalam proses belajar baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Dalam proses belajar mengajar di kelas, terdapat banyak hal yang mempengaruhi kemauan siswa untuk belajar seperti metode mengajar, status sosial ekonomi, lingkungan, dukungan orang tua, sulitnya tugas-tugas, kepedulian guru, kurikulum, kesuksesan, serta dukungan teman sebaya. Semua faktor tersebut sangat penting dan secara simultan mempengaruhi kemauan atau minat siswa untuk belajar.

Keller menyatakan bahwa seorang motivator tidak bisa memotivasi seseorang secara keseluruhan. Bagaimanapun yang mungkin dilakukan hanya untuk membuat atau mengganti kondisi belajar (lingkungan belajar) sehingga siswa dapat memotivasi dirinya sendiri. Pengetahuan yang tidak memiliki arti bagi siswa, secara langsung akan menurunkan motivasi siswa. Jika seseorang belajar tanpa motivasi, maka pada saat mereka belajar, mereka akan mengingat isi dari pelajaran tersebut, namun memorinya akan terhapus setelah selesai ujian atau mengikuti pelajaran tersebut.

Motivasi muncul karena adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan. Hal ini bisa terjadi karena menurut Maslow (1970:43) disebabkan oleh 3 asumsi pokok yang mendasarinya, yaitu : “1) People are wanting animals. Their desires are never completely satisfied, 2) A satisfied need is not a motivation of human behavior; 3) Human nees are arranged  in a hierarchy of importance.

Pernyataan di atas menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang selalu mempunyai keinginan. Keinginan mereka selalu tidak pernah terpenuhi semuanya. Kebutuhan akan keinginan yang sudah terpenuhi, tidak lagi menjadi faktor pendorong, sedangkan manusia tersebut tersusun menurut hirarkhi tingkat pentingnya.

Motivasi belajar merupakan suatu usaha yang mendorong seseorang untuk bersaing dengan standar keunggulan, dimana standar keunggulan ini dapat berupa kesempurnaan tugas, dapat diri sendiri atau prestasi orang lain. Siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi nampaknya akan memperoleh prestasi yang lebih tinggi.

Seorang siswa memiliki motivasi intrinsik dan juga bisa diberikan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang telah ada dalam diri seseorang di mana orang tersebut bisa mengembangkan motivasi tersebut untuk mencapai kesuksesan. Sedangkan motivasi ekstrinsik diberikan oleh orang lain dalam bentuk tindakan, ucapan ataupun suruhan agar orang termotivasi untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik harus seimbang dalam diri seseorang.

Secara umum, hal yang mempengaruhi motivasi intrinsik siswa adalah sebagai berikut :

1. Curiosity (keingintahuan)

Keingintahuan merupakan sesuatu yang membuat orang ingin mencari lebih jauh tentang sesuatu. Keingintahuan bisa membuat seorang siswa belajar lebih, daripada ketika siswa dihadapkan pada buku teks yang harus dibaca oleh siswa. Salah satu tugas utama seorang guru dalam mengajar adalah bagaimana guru tersebut menimbulkan rasa ingin tahu siswanya dan menggunakan keingintahun tersebut sebagai motif untuk belajar. Memberikan pertanyaan atau mengemukakan sebuah masalah kepada siswa lebih baik daripada menjelaskan berbagai fakta yang ada. Jika hal ini dilakukan, maka permasalahan yang diungkapkan dapat meningkatkan keingintahuan siswa dan siswa akan belajar lebih banyak tentang topik tersebut.

2. Self-Efficacy (Kepercayan diri akan keberhasilan)

Kepercayaan diri terjadi jika siswa sudah mencapai tingkat pemahaman. Seorang siswa yang mendapatkan masalah tertentu, kemudian berhasil memperoleh jawaban dari masalah tersebut akan termotivasi kembali untuk memecahkan masalah-masalah yang lainnya. Dalam pikiran siswa yang sudah mapan, kepercayaan diri sangat penting untuk berkompetisi dengan siswa yang lainnya.

3. Attitude (sikap)

Sikap merupakan hal yang penting untuk menentukan motivasi seseorang. Jika seorang siswa bersikap positif terhadap pembelajaran yang dilakukan, maka siswa tersebut akan termotivasi untuk belajar. Sikap lebih merupakan komoditas atau karakteristik seseorang yang abstrak. Sikap seseorang secara umum tidak ditunjukkan dalam proses pembelajaran. Sikap ini lebih merupakan karakteristik intrinsik seseorang, namun sangat menentukan hasil pembelajarannya.

4. Need (kebutuhan)

Kebutuhan merupakan hal yang sangat besar artinya bagi seseorang, terutama seorang siswa. Kebutuhan seseorang bertingkat dan berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Secara umum klasifikasi atau tingkatan kebutuhan yang dikenal adalah tingkatan kebutuhan menurut Maslow.

5. Competency (persaingan)

Persaingan dalam pembelajaran merupakan salah satu motivasi intrinsik yang juga sekaligus dipegaruhi oleh motivasi ekstrinsik. Persaingan yang ketat akan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Persaingan juga memiliki kaitan erat dengan kebutuhan dari Maslow yang kelima yaitu aktualisasi diri. Dengan persaingan dan memenangkan persaingan, maka siswa akan berhasil mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan cita-citanya.

Selain faktor-faktor internal tersebut, ada motivasi ekstrinsik yang harus diberikan kepada siswa agar siswa mampu membangkitkan motivasi intrinsik yang dimiliki. Ada beberapa hal yang mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar di antaranya adalah merasa dihargai, persepsi tentang kemampuan kognitif, keuntungan dan tekanan dari teman sebaya dan guru, persepsi terhadap dukungan dari orang tua, sulitnya tugas-tugas, aktivitas dalam kehidupan nyata, pembelajaran, dan gender.

Dalam konteks kegiatan belajar mengajar, motivator yang paling tepat adalah guru. Walaupun siswa terpengaruh juga oleh motivator yang lain, mislnya orang tua dan lingkungan, namun guru masih merupakan motivator yang dominan bagi siswa (Halat, Jakubowski, & Aydin, 2008). Hal ini terjadi kerena guru memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap motivasi siswa. Besarnya motivasi ini disebabkan oleh karena guru mempunyai kesempatan mengontrol aspek-aspek dalam pembelajaran dan keadaan iklim pembelajaran di kelas. Akibatnya, guru akan lebih mudah meningkatkan motivasi belajar siswanya. Siswa yang merasa didukung dan dihargai oleh guru akan beraktivitas secara lebih termotivasi dan berusaha untuk sukses dalam pembelajaran di kelas.

Motivasi belajar merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam proses belajar siswa. Seorang siswa yang tidak termotivasi akan merasa kesulitan dalam menerima materi yang disampaikan kepada siswa. Seorang motivator tidak bisa membentuk motivasi dalam diri siswa, motivator hanya bisa mengembangkan motivasi yang sudah ada di dalam diri siswa.

Pupuh Fathurohman dan M. Sobry Suntikno (2010) menyatakan ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, yaitu:

1.  Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik

Pada permulaan belajar mengajar, terlebih dahulu seorang guru menjelaskan tentang tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran kepada siswa. Makin jelas tujuan yang akan dicapai peserta didik maka makin besar juga motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar.

2.    Memberikan hadiah (reward)

Memberikan hadiah kepada peserta didik yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat peserta didik untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, peserta didik yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar peserta didik yang berprestasi.

3.    Memunculkan saingan atau kompetensi

Guru berusaha mengadakan persaingan di antara peserta didik untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4.    Memberikan pujian

Memberikan pujian atau penghargaan kepada peserta didik yang berprestasi sudah sepantasnya dilakukan oleh guru yang bersifat membangun.

5.    Memberikan hukuman

Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar peserta didik tersebut mau mengubah diri dan beruaha memacu motivasi belajarnya.

6.    Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar

Kegiatan yang dilakukan guru adalah memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.

7.    Membentuk kebiasaan belajar yang baik

Guru menanamkan pembiasaan belajar yang baik dengan disiplin yang terarah sehingga peserta didik dapat belajar dengan suasana yang kondusif.

8. Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun komunal (kelompok)

9.  Menggunakan metode yang bervariasi

Dalam pembelajaran, metode konvensional harus sudah ditinggalkan guru karena peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dibutuhkan metode yang tepat/bervariasi dalam memberdayakan kompetensi peserta didik.

10. Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Penggunaan media yang tepat sangat membantu dan memotivasi peserta didik dalam memaknai pembelajaran sesuai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Adanya media yang tepat akan mampu memediasi peserta didik yang memiliki kemampuan indera yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatannya, demikian juga kemampuan berbicaranya. Dengan variasi penggunaan media, kelemahan indera yang dimiliki tiap peserta didik dapat dikurangi dan dapat memberikan stimulus terhadap indera peserta didik.

Adanya strategi di atas, menuntut kesiapan guru sebagai perancang pembelajaran untuk mampu mengimplementasikannya dalam kegiatan proses belajar mengajar. Guru harus mampu meninggalkan kebiasaan-kebiasaan pembelajaran yang dimonopoli oleh guru itu sendiri (teacher sentre) . Karena guru dalam melaksanakan peranya sebagai pendidik, pengajar pemimpin, administrator, harus mampu melayani peserta didik yang dilandasi kesadaran (awarreness), keyakinan (belief), kedisiplinan (discipline) dan tanggung jawab (responsibility) secara optimal sehingga memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan peserta didik secara optimal baik fisik maupun phisikis.

Perkembangan peserta didik secara optimal akan terlihat bagaimana sang guru mampu menumbuhkan motivasi pada diri peserta didik dalam pembelajaran. Guru yang tidak mampu menumbuhkan motivasi peserta didik berarti sang guru kurang memahami strategi yang tepat dalam pembelajaran.

 

 DAFTAR BACAAN

 

Davies, Ivor K. 1981. Instructional Technique,  Mc Graw-Hill Bok Company

Keller, J.M.1983. Motivational design of instruction. In C.M. Reigeluth (Ed.). Instructional design theories and models: An overview of their current status. Hillsdale, NJ: Erlbaum.

------------1987. Strategies for stimulating the motivation to learn. Performance and Instruction, 26(8), 1-7. (EJ 362 632)

Maslow, Abraham.M, 1970. Motivation and Personality, New York: Harper and Row

Martin, BarbaraL., & Briggs, Leslie J. 1986. The Affective and Cognitive Domains: Integration for Instruction And Research.  New Jersey: Educational Technology Publications, Inc

Santrock, John W. 2011. Educational Psychologi.  McGraw-Hill Company, Inc.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno. 2010. Strategi Belajar Mengajar: Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami. Bandung: PT Refika Aditama.

Ormrod, Jeanne Ellis. 2008, Educational Psychology Developing Learners, Alih Bahasa Penerbit Erlangga : Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang,  Pen. Erlangga Jakarta, Edisi Keenam, Jilid 2

Wolfolk, Anita 2009. Educational Psychology: Active Learning Edition. Yogyakarta Pustaka Pelajar. Bagian Kedua

Wlodkowski, R.J.1981. Making sense our of motivation: A systematic model to consolidate motivational constructs across theories. Educational Psychologist, 16(2)



Baca Juga Berita Terkait dengan Artikel ini :