Artikel dari Kategori : Profil

Perbedaan Individu

Pendidikan

Ilpi Zukdi | Minggu, 20 Maret 2016 - 13:36:10 WIB | dibaca: 394 pembaca

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang

                   Makalah ini akan membahas tentang Perbedaan Individual : Intelegensi, bakat, gaya belajar, kepribadian dan tempramen serta implikasinya dalam pembelajaran. Hal ini terasa penting untuk dianalisis karena, akan memberikan pemahaman kepada para pendidik bahwa setiap anak mempunyai karakteristik yang berbea-beda. Perbedaan antar individu sangat berpengaruh kepada proses belajar yang akan berlangsung. Hal ini tentunya memberikan ketegasan kepada kita bahwa sebagai seorang pendidik (guru) tidak bisa menyamaratakan semua peserta didik.

                   Untuk mencapai proses belajar yang optimal, seorang guru harus mengetahui apa saja yang dibutuhkan siswanya dan berusaha membantu memenuhi kebutuhan siswa tersebut dalam belajar.

                   Seorang guru sebagai salah satu fasilitator dalam proses pembelajaran sebaiknya dapat memastikan setiap anak didiknya mendapatkan apa yang dibutuhkan. Oleh karena itu, seorang pendidik dituntut untuk dapat memahami perbedaan-perbedaan individu tiap anak didiknya.

                   Dengan memahami hal tersebut, diharakan guru dapat menyediakan upaya-upaya agar setiap peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran seefektif mungkin.

B.   Rumusan Masalah

            Masalah dalam tulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.    Bagaimana gambaran tentang perbedaan individu

2.    Faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya perbedaan individu

3.    Bagaimana implikasi perbedaan individu terhadap proses pembelajaran

C.   Tujuan

Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah :

1.    Untuk menggambarkan tentang individu dan perbedaan individu

2.    Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi terjadinya perbedaan individu

3.    Untuk mengetahui implikasi perbedaan individu terhadap proses pembelajaran

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.   Perbedaan Individu

Setiap anak adalah unik. Ketika kita memperhatikan anak-anak di dalam ruang kelas, kita akan melihat perbedaan individual yang sangat banyak. Bahkan anak-anak dengan latar belakang usia hampir sama, akan memperlihatkan penampilan, kemampuan, temperamen, minat dan sikap yang sangat beragam.

Dalam kajian psikologi, masalah individu mendapat perhatian yang besar, sehingga melahirkan suatu cabang psikologi yang dikenal dengan individual psychology, atau differential psychology, yang memberikan perhatian besar terhadap penelitian tentang perbedaan antar individu. Ini didasarkan atas kenyataan bahwa di dunia tidak ada dua orang yang persis sama. Bahkan anak kembar sekali pun masih ditemukan adanya beberapa dimensi perbedaan di antara keduanya.

Dalam tinjauan psikologi Islam, perbedaan individual tersebut dipandang sebagai realitas kehidupan manusia yang sengaja diciptakan Allah untuk dijadikan bukti kebesaran dan kesempurnaan ciptaan-Nya. Ketika menjelaskan tentang proses penciptaan, dalam surah al-Mu’minun ayat 12-14, Allah telah memberi isyarat akan perbedaan individual ini.

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.

 

Kata-kata “makhluk (bentuk) lain” (khalqun akhar) yang terkandung dalam ayat di atas mengindikasikan betapa manusia sebagai makhluk individual memiliki ciri-ciri khas, yang berbeda satu sama lain. Sejak zaman Nabi Adam, manusia pertama ciptaan Allah, hingga saat ini tidak ditemukan seorang yang memiliki bentuk persis sama, meskipun masih dalam keturunan yang satu.

Jadi, setiap manusia, apakah ia berada dalam suatu kelompok ataukah seorang diri, ia disebut individu. Individu menunjukkan kedudukan seseorang sebagai perseorangan atau pesona. Sebagai orang perorangan, individu memiliki sifat-sifat atau karakteristik yang menjadikannya berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan inilah yang disebut dengan perbedaan individual (individual differences).

Ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik inidividual ini dapat berupa karakterisitik bawaan sejak lahir dan dapat pula berupa karakteristik yang diperoleh dari hasil pengaruh lingkungan. Seorang bayi yang baru lahir misalnya, merupakan hasil perpaduan dari dua garis keturunan, keturunan ayah dan keturunan ibu. Sejak masa konsepsi awal di dalam kandungan ibu, secara berkesinambungan ia dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang. Masing-masing perangsang tersebut, baik secara terpisah ataupun secara bersama-samadengan perangsang lain, mempengaruhi perkembangan potensi-potensi biologis, yang pada gilirannya menjelma menjadi suatu pola tingkah laku yang dapat mewujudkan seseorang menjadi individu yang berkarakteristik berbeda dengan individu-individu lain.

Secara umum, perbedaan individual dapat dibedakan atas dua macam, yaitu perbedaan secara vertikal dan perbedaan secara horizontal. Perbedaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah, seperti: bentuk, tinggi, besar, kekuatan, dan sebagainya. Sedangkan perbedaan horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental, seperti: tingkat kecerdasan, bakat, minat, ingatan, emosi, temperamen, dan sebagainya. Sudjana (2007) mengatakan bahwa setidaknya terdapat 6 perbedaan-perbedaan individual yang ada pada peserta didik atau siswa, yaitu: perkembangan intelektual, kemampuan berbahasa, latar belakang pengalaman, gaya belajar, bakat dan minat dan kepribadian.

Berdasarkan perbedaan-perbedaan individu yang telah diuraikan di atas, akan dijelaskan hal-hal sebagai berikut :

1. Intelegensi

Secara umum definisi Inteligensi adalah suatu istilah yang popular. Hampir semua orang sudah mengenal istilah tersebut, bahkan mengemukakannya. Istilah inteligen sudah lama ada dan berkembang dalam masyarakat sejak zaman Cicero yaitu kira-kira dua ribu tahun yang lalu dan merupakan salah satu aspek alamiyah dari seseorang. Inteligensi bukan merupakan kata asli yang berasal dari bahasa Indonesia. Kata inteligensi adalah kata yang berasal dari bahasa latin yaitu “inteligensia“. Sedangkan kata “inteligensia“ itu sendiri berasal dari kata inter dan lego, inter yang berarti diantara, sedangkan lego berarti memilih. Sehingga inteligensi pada mulanya mempunyai pengertian kemampuan untuk memilih suatu penalaran terhadap fakta atau kebenaran.

Beberapa ahli berbeda dalam memberikan batasan intelegensi. William Stern (dalam Kartini Kartono:1990) seorang pelopor dalam penelitian intelegensi member pengertian intelegensi sebagai : kemampuan untuk menggunakan secara tepat segenapalat-alat bantu dari pikiran, guna menyesuaikan diri terhadap tuntutan-tuntutan baru. Batasan ini menegaskan bahwa walaupun tidak seluruhnya, namun sebagain besarintelegensi ditentukan oleh pembawaan turun-temrun dan tidak banyak tergantung pada faktor milieu, khususnya sekolah dan pengajaran.

Sementara itu Vernon dalam Slameto (2010) merumuskan intelegensi sebagai kemampuan untuk melihat hubungan yang relevan diantara obyek-obyek atau gagasan-gagasan, serta kemamuan untuk menerapkan hubungan-hubungan ini kedalam situasi-situasi baru yang serupa.

Santrock (2011) mengkombinasikan definisi para ahli dengan: keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari, pengalaman hidup sehari-hari.

Berdasarkan batasan yang diemukakan di atas dapat dikatakan bahwa intelegensi adalah salah satu kemampuan mental, pikiran atau intelektual dan merupakan bagian dari proses-proses kognitif pada tingkatan yang lebih tinggi. Secara umum inteligensi dapat dipahami sebagai kemampuan untuk menggunakan konsep yang abstrak secara efektif, dan kemampuan untuk memahami hubungan dan mempelajarinya dengan cepat. 

Dalam proses pendidikan di sekolah, inteligensi diyakini sebagai unsur unsur penting yang sangat menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Namun inteligensi merupakan salah satu aspek perbedaan individual yang perlu dicermati. Setiap peserta didik memiliki inteligensi yang berlainan. Ada anak yang memiliki inteligensi tinggi, sedang dan rendah. Untuk mengetahui tinggi rendahnya inteligensi peserta didik, para ahli telah mengembangkan instrumen yang dikenal dengan “tes inteligensi”, yang kemudian lebih populer dengan istilah Intelligence Quotient, disingkat IQ. Berdasarkan hasil tes inteligensi ini, peserta didik dapat diklasifikasikan sebagai

 

a.  Anak genius

IQ di atas 140

b.  Anak pintar

110-140

c.  Anak normal

90-110

d.  Anak kurang pintar

70-90

e.  Anak debil

50-70

f.  Anak dungu

30-50

g.  Anak idiot

IQ di bawah 30

 

Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase orang yang genius dan idiot sangat kecil, dan yang terbanyak adalah anak normal. Genius adalah sifat pembawaan luar biasa yang dimiliki seseorang, sehingga ia mampu mengatasi kecerdasan orang-orang biasa dalam bentuk pemikiran dan hasil karya. Sedangkan idiot atau pandir adalah penderita lemah otak, yang hanya memiliki kemampuan berpikir setingkat dengan kecerdasan anak yang berumur tiga tahun (Mursal, 1981).

Secara garis besarnya, klasifikasi IQ di atas dapat digolongkan kedalam dua jenis yaitu gifted dan retarded.

  1. Gifted

Siswa yang memiliki skor IQ di atas 130 disebut gifted. Dalam proses pembelajaran, siswa yang tergolong gifted ditunjukkan dengan prestasi belajar yang tinggi. Siswa gifted akan mudah memahami pelajaran yang diberikan bahkan lebih dahulu mempelajari materi yang belum diajarkan. Mereka dapat mengerjakan soal-soal sulit yang kebanyakan siswa tidak bisa mengerjakannya. Bahkan terkadang siswa gifted dapat mengerjakan soal-soal untuk tingkat yang lebih tinggi.

Karakteristik siswa gifted yang terlihat dalam proses pembelajaran antara lain prestasinya yang di atas rata-rata, cara berfikir yang kreatif dan komitmen terhadap tugas yang tinggi. Pada saat proses belajar-mengajar berlangsung misalnya, saat guru menjelaskan tentang suatu rumus matematika, siswa pada umumnya akan menelan bulat-bulat penjelasan yang mereka terima. Namun siswa gifted biasannya akan aktif bertanya darimana rumus itu berasal, bagaimana mendapatkan penyelesaian masalah dengan rumus lain dan sebagainya. Begitu pula dalam mengerjakan tugas, ia akan mengerjakan tugas yang sulit-sulit, sedangkan tugas yang mudah tidak akan dikerjakannya karena dianggapnya membosankan.

Siswa gifted memiliki kemungkinan kesulitan bersosialisasi. Akan terjadi kesenjangan sosial antara anak gifted dan siswa lainya. Ia menganggap siswa lain dengan kemampuan jauh dibawahnya tidak sebanding dengan dirinya sehingga menarik diri dari pergaulan. Kemungkinan lainnya yaitu siswa gifted akan menganggap remeh gurunya karena kemampuannya mungkin melebihi sang guru. Ia menganggap belajar di dalam kelas membosankan karena materi yang diajarkan terlalu mudah.

  1. Retarded

Siswa yang tergolong retarded yaitu yang memiliki IQ dibawah 70. Pada umumnya siswa retarded mendapat perhatian yang lebih khusus dan terpisah dengan siswa pada umumnya. Oleh Panel Mental Retardasi, anak retarded terbagi menjadi beberapa klasifikasi yaitu mild (IQ 50-70), moderate (IQ 36-50), severe (IQ 20-36), dan profound (IQ dibawah 20).

Siswa retarded membutuhkan bimbingan yang lebih khusus untuk belajar. Pengajaran kepada siswa retarded lebih diutamakan untuk bersosialisasi dan keterampilan yang sesuai dengan bakatnya. Pembelajaran seperti matematika tidak perlu ditekankan. Hanya untuk siswa dengan tingkat kecerdasan yang mendekati normal. Sedangkan untuk anak yang tergolong moderate dan severe retarded lebih ditekankan pada bimbingan untuk merawat dirinya sendiri.

Dengan adanya perbedaan individual dalam aspek inteligensi ini, maka guru disekolah akan mendapati anak dengan kecerdasan yang luar biasa, anak yang mampu memecahkan masalah dengan cepat, mampu berpikir abstrak dan kreatif. Sebaliknya, guru juga akan menghadapi anak-anak yang kurang cerdas, sangat lambat dan bahkan hampir tidak mampu mengatasi suatu masalah yang mudah sekalipun.

2. Bakat

Bakat adalah prestasi menonjol dalam bidang tertentu yang muncul sejak kanak-kanak, misalnya di bidang: sastra, matematika, seni, atletik, dan kepemimpinan (Gardner, 1983; Gardner and Hatch, 1989 dalam Berk 1994). Menurut Roselli 1996 (dalam Santrock: 2011) anak berbakat yang tidak merasa tertantang dapat mengganggu, tidak naik kelas, dan kehilangan semangat untuk berprestasi. Terkadang anak-anak ini suka membolos, asif, dan apatis terhadap sekolah.

Hertzog, 1998 memberikan empat opsi program untuk anak berbakat, yaitu :

a.     Kelas khusus. Secara historis ini adalah cara yang lazim untuk mendidik anak berbakat

b.    Akselerasi dan pengayaan dikelas regular

c.     Program mentor dan elatihan

d.    Kerja/Study dan/atau program pelayanan masyarakat

3.  Gaya Belajar

Peserta didik satu tentu memiliki gaya dan kebiasaan belajar favorit dan mampu mempercepat pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Bukan hanya dalam kebiasaan namun juga dalam kondisi tertentu misalnya seorang siswa lebih mampu belajar dalam keadaan yang tenang dan hening sehingga mampu mempercepat pemahaman materi.

Drysdale dkk 2001 (dalam Santrock:2011) mengemukakan bahwa gaya belajar bukanlah kemampuan tetapi cara yang dipilih seseorang untuk menggunakan kemampuannya. Santrock (2011) membagi gaya belajar kepada 2 macam yaitu :

a. Gaya Impulsif/Reflektif

Gaya impulsive/reflektif juag disebut sebagai tempo konseptual, yakni murid cendrung bertindak cepat dan impulsive atau menggunakan lebih banyak waktu untuk merespons dan merenungkan akurasi dari suatu jawaban. Murid yang impulsife sering kali lebih banyak melakukan ketimbang murid yang reflektif. Dibandingkan murid yang impulsive, murid yang reflektif lebih mungkin melakukan tugas : mengingat informasi yang terstruktur, membaca dengan memahami dan menginpretasi teks, memecahkan problem dan membuat keputusan.

Dibandingkan murid yang impulsive, murid yang reflektif juga lebih mungkin untuk menentukan sendiri tujuan belajar dan berkonsentrasi pada informasi yang relevan. Murid yang reflektif biasanya standar kinerjanya tinggi.

b.  Gaya mendalam/dangkal

Sejauh mana murid mempelajari materi belajar dengan satu cara yang membantu mereka untuk memahami makna nateri tersebut (gaya mendalam) atau sekedar mencari apa-apa yang perlu untuk dipelajari (gaya dangkal). Mrid yang menggunakan belajar dengan gaya dangkal tidak bisa mengaitkan apa-apa yang mereka pelajari dengan kerangka konseptual yang lebih luas. Mereka cendrung belajar secara pasif, sering kali hanya mengingat informasi. Pelajar mendalam (deep learner) lebih mungkin untuk secara aktif memahami apa-apa yang mereka pelajari dan member makna pada apa yang perlu diingat. 1adi pelajar mendalam menggunakan pendekatan konstruktivis dalam aktivitas belajarnya. Selain itu juga lebih mungkin memotivasi diri sendiri untuk belajar. Sedangkan pelajar dangkal (surface learner) lebih mungkin akan termotivasi jika ada penghargaan dari luar, seperti pujian dan tanggapan positif dari guru.

4.  Kepribadian

Definisi kepribadian menurut Santrok (2011: 156) adalah pemikiran, emosi dan rilaku tertentu yang menjadi cirri dari seseorang dalam menghadapi dunianya. Dalam bukunya Psikologi Pendidikan yang dialih bahasakan oleh M. Buchari (1988:96) HC Witherington mengemukakan salah satu definisi kepribadian dengan apa yang memungkinkan seseorang bersifat efektif atau apa yang memungkinkan seseorang mempunyai pengaruh terhadap orang lain. Dalam bahasa psikologi kepribadian adalah nilai perangsang sosial seseorang.

Sementara itu, definisi kepribadian menurut Atkinson dkk adalah pola perilaku dan cara berpikir yang khas, yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan. Seseorang mempunyai kepribadian yang berbeda satu dan lainya. Perbedaan kepribadian menyebabkan adanya perbedaan perilaku dalam proses kegiatan belajar pula. Terdapat berbagai model untuk menunjukkan perbedaan kepribadian, salah satunya yaitu model big five. Dalam model big five kepribadian dikelompokkan menjadi lima dimensi.

  1. Extroversion. Siswa dengan kepribadian ini menyukai belajar dengan berkelompok. Mereka sangat antusias dalam diskusi kelompok. Sedangkan siswa introvert cenderung menyukai belajar seorang diri. Bukan karena menarik diri dari pergaulan, namun siswa tipe ini membutuhkan keadaan yang tenang untuk menyerap materi pelajaran.
  2. Agreeableness. Siswa jenis ini senang bergaul dengan orang lain dan terbuka dengan pendapat orang lain. Sedangkan disagreeable akan mempertahankan pendapatnya sendiri. Dalam proses belajar matematika siswa disagreeable dapat menunjukkan sikap kritisnya. Misalnya saat mengerjakan soal yang berbentuk pembuktian, jika siswa disagreeable merasa dirinya benar, ia akan mempertahankan jawabannya dengan membuktikan kebenarannya. Siswa ini hanya dapat menerima jawaban lain apabila jawabannya terbukti salah dengan dalil-dalil yang sudah ada. Sedangkan siswa agreeable kemungkinan menerima semua jawaban tanpa mencoba membuktikan dulu apakah jawaban itu benar atau salah.
  3. Concientiousness. Berkaitan dengan cara seseorang mengontrol, mengatur dan memerintah inpuls. Anak yang conscientious akan menghindari kesalahan, mempunyai tujuan yang jelas dan gigih demi mencapai tujuan yang diinginkannya. Sedangkan unconcientious kurang berambisi, tidak terikat dengan tujuan yang harus dicapai. Siswa conscientious cenderung serius dan bersungguh-sungguh dalam belajar demi mencapai target prestasi yang terbaik. Namun hal ini menyebabkan hubungan dengan sesama temannya terlihat kaku karena terpaku pada belajar saja. Sedangkan siswa unconcientious lebih luwes dalam bergaul namun kurang dapatserius dalam belajar.
  4. Stabilitas emosional. Neoriticism merujuk pada kecenderungan untuk mengalami emosi negatif. Siswa yang mempunyai neoriticism yang tinggi akan mudah terpancing oleh hal-hal yang kecil. Mereka mudah terganggu pada saat belajar sehingga menyebabkan bad mood dan akhirnya mengganggu proses belajar. Siswa yang tingkat neoriticism nya rendah dapat mengontrol emosi dengan baik sehingga tidak mudah terganggu oleh hal-hal kecil.
  5. Openness to experience. Kepribadian siswa yang terbuka dengan hal-hal yang baru dan mau mencoba. Berani mengambil resiko demi menjawab keingintahuan mereka. Dalam pembelajaran, siswa dengan tipe ini tidak cepat puas dengan apa yang mereka dapatkan di pelajaran. Siswa akan mencoba soal-soal yang baru, mencari rumus-rumus baru yang berkaitan dengan topic yang sedang mereka pelajari. Sedangkan siswa pada umumnya mugnkin hanya menerima apa yang mereka dapat saja.

 

5. Tempramen

Temperamen adalah perbedaan individual yang stabil dalam hal kualitas dan intensitas reaksi emosional, misalnya, jika kita mendeskripsikan seseorang: ceria dan lincah, yang lain: aktif dan enerjik, sedangkan yang lainnya: tenang, hati-hati, atau mudah marah, hal ini mengacu pada temperamen (Goldsmith: 1987 dalam Berk, 1994: 407). Para peneliti sudah mengkaji perbedaan temperamen di antara bayi dan anak-anak, karena gaya respons emosi anak dapat membentuk landasan kepribadian orang dewasa.

Alexander Thomas dan Stella Chess dari The New York Longitudinal Study pada tahun 1956 meneliti 141 bayi berusia beberapa bulan sampai dewasa. Hasilnya adalah bahwa temperamen merupakan faktor utama yang menyebabkan anak mengalami masalah psikologis akibat kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis (highly stressful home life). Kendatipun demikian, Thomas and Chess (1977)  juga menemukan bahwa temperamen tidak tetap dan dapat diubah. Keadaan lingkungan cenderung mempengaruhi gaya emosi anak.

B.   Perbedaan Individu dan Implikasinya dalam Pembelajaran

 Perbedaan individu dalam pembelajaran merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam prinsip-prinsip pembelajaran, disamping prinsip lainnya yaitu : perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/ berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan.

Perbedaan itu sangatlah lumrah dan tidak dapat dihindari. Sebagai seorang pengajar yang baik, guru tidak dapat meniadakan perbedaan-perbedaan tersebut dengan menganggap semua siswa sama. Oleh karena itu dibutuhkan upaya dalam menyikapi perbedaan-perbedaan setiap siswa. Upaya tersebut dapat berupa cara mengajar yang bervariatif. Dengan kata lain, guru tidak mengasumsian bahwa siswa dalam kegiatan pembelajaran yang diselenggarakannya merupakan satu kesatuan yang memiliki karakteristik yang sama.

Konsekuensi logis dengan adanya perbedaan individual ini adalah guru harus mampu melayani setiap siswa sesuai karakteristik mereka orang perorang. Implikasi prinsip perbedaan individual bagi guru berwujud perilaku-perilaku yang diantaranya adalah :

a.     Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharakan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya

b.    Merancang pemamfaatan berbagai media dalam menyajikan pesan pembelajaran

c.     Mengenali karakteristik setiap siswa sehingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan

d.    Memberikan remediasi ataupun pertanyaan-pertanyaan kepada siswa yang membutuhkan.

 

BAB III

PENUTUP

A.   Kesimpulan

1.    Manusia khususnya siswa merupakan pribadi yang unik, karena tidak ada manusia yang sama sekalipun kembar.

2.    Perbedaan individual terbentuk karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi diantaranya perbedaan intelegensi, bakat, gaya belajar, kepribadian dan tempramen yang berbeda.

3.    Implikasi perbedaan indibidual terhadap pembelajaran adalah guru harus mampu melayani setiap siswa sesuai karakteristik mereka orang perorang

B.   Saran

Guru sebelum memulai proses pembelajaran seyogyanya mengenali perbedaan individual setiap siswa dan mengidentifikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru dalam kegiatan pembelajaran.          

 DAFTAR REFERENSI

Albert, R. S., & Runco, M. A. (1986). The Achievement of Eminence: A Model Based on a Longitudinal Study of Exceptionally Gifted Boys and Their Families. In R. J. Sternberg & J. E. Davidson (Eds.), Conceptions of Giftedness (pp. 332-357). New York: Cambridge            University Press.

Berk, Laura E. 1994. Child Development (3rd ed.), Boston: Allyn and Bacon.

Bloom, B. S. 1985. Developing Talent in Young People. (Ed.). New York: Ballantine.

Dimyati, Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Penerbit Rineka Cipta Jakarta, cet ke 3

Feldman, D. H., & Goldsmith, L. T. 1991. Nature’s Gambit. New York: Teachers College Press.

Gardner, H. 1983. Frames of Mind. New York: Basic Books.

Gardner, H, & Hatch, T. 1989. Multiple Intelligences Go to School. Educational Researcher,           18 (8), 4-10.

Goldsmith, H. H. 1987. Roundtable: What Is Temperament ? Four Approaches. Child            Development, 58, 505-529.

Hertzog,N.B (1998). Teaching Exceptional Children. Gifted Education specialist.

Kartono, Kartini. 1990. Psikologi Umum. Pen. CV Mandar Maju Bandung. cet ke II

M. Ngalim Purwanto. 2010. Psiologi Pendidikan. Pen. PT Remaja Rosdakaya Bandung, cet ke dua puluh empat

Roselli.H.C. 1996. National Association for Secondary School. Gifted Students.

Santrock, John W, 2011. Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua. Pen. Prenada Media Group Jakarta.

Slameto. 2010. Belajar & Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pen. Rineka Cita Jakarta, cet ke 5

Suyanto, Agus. 2008. Psikologi Umum. Pen. Bumi Aksara Jakarta, cet ke 5

Shaughnessy, M. F. 1990. Cognitive Structures of the Gifted: Theoretical Perspectives, Factor            Analysis, Triarchic Theories of Intelligence, and Insight Issues. Gifted Education            International, 6, 149-151.

Sternberg, R. J. & Davidson, J. E. (Eds.), 1986. Conceptions of Giftedness. New York:  Cambridge University Press.

Witherington.H.C. Alih Bahasa M. Buchori. 1986. Psikologi Pendidikan. Pen. Jemmars Bandung

 



Baca Juga Berita Terkait dengan Artikel ini :