Artikel dari Kategori : Profil

ASPIRASI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PEMBINAAN KARAKTER ANAK

Penelitian

Ilpi Zukdi | Jumat, 29 Agustus 2014 - 16:32:34 WIB | dibaca: 893 pembaca

ASPIRASI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PEMBINAAN KARAKTER ANAK (STUDY PADA PERSATUAN SANTRI ANAK NAGARI (PERSANA) MATUA HILIA  DI KENAGARIAN MATUA HILIA KECAMATAN MATUR KAB. AGAM)

 

 BAB I

PENDAHULUAN

A.Konteks Penelitian

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupan manusia. Perubahan tidak saja kepada penguasaan dan eksploitasi manusia terhadap alam sehingga dapat mempermudah dan mensejahterakan manusia, akan tetapi juga secara inheren membawa perubahan terhadap tatanan prilaku hidup manusia itu sendiri.

Perubahan tatanan prilaku hidup dilihat dari gejala-gejala yang nampak yaitu semakin longgarnya sikap masyarakat terhadap norma-norma yang berlaku, ditambah lagi dengan sikap permisif sehingga mengakibatkan tereduksinya tata nilai yang selama ini dipertahankan dan dipelihara.

Kondisi demikian merupakan suatu keniscayaan yang harus diterima. Pada suatu sisi kemajuan IPTEK akan semakin mempermudah kehidupan, pada sisi lain norma-norma yang berlaku dimasyarakat semakin longgar, sehingga tidak jarang terjadi konflik nilai.

Pendidikan sebagai suatu institusi memegang peranan penting dalam mengantisipasi gejala-gejala tersebut. Dalam UU Sisdiknas Pasal 3 menjelaskan bahwa; Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Depag RI, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2003 : Memahami Paradigma baru Pendidikan Nasional dalam UU Sisdiknas Penerbit ; Ditjen Kelembagaan Agama Islam Depag, Cet. Ketiga, Hal.37).

Pasal diatas memberi penegasan bahwa akhlak mulia merupakan salah satu indikator penting dari fungsi pendidikan yang akan menjadi target pendidikan di Indonesia. Melalui jalur pendidikan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara ( UU Sisdiknas No. 20:2003: Pasal 1 ayat 1).

Berdasarkan UU Sisdiknas No. 20 tersebut diatas pendidikan di Indonesia dibagi kedalam 3 jalur yaitu pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Sementara itu pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara berstruktur dan berjenjang, sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (UU Sisdiknas ; Pasal 11, 12 dan 13).

Prinsip dasar yang dapat ditangkap dari uraian-uraian diatas adalah setiap warga masyarakat mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk menempuh pendidikan pada jalur-jalur yang ditetapkan tersebut. Menurut Marzuki (1996;3) upaya memberi kesempatan kepada setiap warga Negara untuk memperoleh haknya yaitu memperoleh pendidikan yang layak yakni minimal Pendidikan Dasar. Lebih lanjut dijelaskan, pembinaan pemenuhan hak ini penting, karena pendidikan diyakini bukan hanya untuk membuat orang meningkat pengetahuan, sikap dan ketrampilannya, tetapi juga membantu secara meyakinkan orang menjadi aman, lebih sehat, lebih berhasil dan lebih berwawasan lingkungan.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ketiga jalur pendidikan berkewajiban dan berfungsi mengembangkan kemampuan dan watak potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlak mulia.

Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam UMSB sebagai salah satu jalur formal Pendidikan Tinggi ikut berpartisipasi dalam mendidik masyarakat untuk berakhlak mulia tersebut. Hal ini teraplikasi dari program KKN yang diadakan setiap tahun.

Pada tahun 2008 mahasiswa PAI UMSB melaksanakan KKN di Nagari-nagari se-Kecamatan Matur Kabupaten Agam. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Mahasiswa selama KKN dilapangan tidak saja tinggal dan berbaur dengan masyarakat, akan tetapi juga mengadakan kegiatan yang bermanfaat seperti kegiatan keagamaan, berdakwah dan berceramah di mesjid, mengajar di sekolah-sekolah serta kegiatan lapangan lainnya yang berhubungan dengan organisasi masyarakat dan kepemudaan seperti PKK, Bamus, dan lain sebagainya.

Nagari Matua Hilia adalah salah satu Nagari yang terdapat di Kecamatan Matur sebagai tempat KKN Mahasiswa. Setelah kegiatan KKN selesai, warga masyarakat karena merasakan manfaatnya, maka atas kesepakatan dibuat forum silaturrahmi antara mahasiswa KKN dan masyarakat. Untuk mewujudkan Visi Nagari Matua Hilia yaitu : Dengan kebersamaan kita wujudkan masyarakat yang sejahtera, beragama, beradat dan punya rasa malu sekaligus menciptakan Agam Mandiri, Berprestasi dan Madani.

Untuk itu disepakati melalui musyawarah yang dilakukan pemuda-pemudi, tokoh masyarakat, Pemerintahan Nagari dan Mahasiswa KKN didirikan Persatuan Santri Anak Nagari (PERSANA) di Matua Hilia. Program dari Persana adalah menitik beratkan kepada pembinaan khusus generasi muda. Hal ini sesuai dengan Visi Persana yaitu : Menciptakan generasi penerus yang beraqidah, berakhlak mulia, bertaqwa serta beradat dan berilmu pengetahuan.

Kegiatan pertama yang dilakukan adalah Pesantren Kilat pada Ramadhan 1429 H/2008 M. Follow Up dari kegiatan tersebut dilakukan setiap bulan dengan melakukan inovasi kegiatan serta materi diantaranya berupa pemberian materi PAI, Motivation Achievement, organisasi dan praktek pidato untuk meningkatkan percaya diri santri untuk tampil didepan umum, praktek ibadah dan sosialisasi lingkungan dan kunjungan ketempat wisata di Nagari setempat. Selain itu untuk menambah kecintaan santri terhadap nilai Budaya Minangkabau diberi pelatihan Silek Minang, petatah-petitih Minang, pasambahan, Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), perlombaan-perlombaan seperti hafalan Asma’ul Husna, Pidato, cerdas cermat, MTQ dan kaligrafi.

Kegiatan rutin yang diadakan setiap minggu adalah TPSQ dan wirid pengajian Al-Qur’an. Sementara itu untuk kegiatan olahraga diadakan bulutangkis.

Selama 4 tahun berjalan sudah dirasakan manfaat yang cukup besar terhadap akhlak para remaja. Berdasarkan wawancara dengan pengurus Persana Dewi Ermita mengatakan bahwa : sejak dilaksanakan kegiatan Persana perilaku dan akhlak generasi muda berubah kearah yang lebih baik. Hal ini terlihat dari perilaku generasi muda yang memanfaatkan waktu kepada kegiatan-kegiatan produktif dan bermanfaat, kenakalan remaja yang semakin turun. (wawancara tanggal 21 April 2012)

Dengan melihat kenyataan dilapangan, aspirasi dan partisipasi masyarakat sangat diperlukan demi perbaikan akhlak remaja secara terus-menerus. Apabila masyarakat ikut berperan dalam pembinaan akhlak, maka dapat menciptakan akhlak mulia anak itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari harapan dan peran serta masyarakat membantu setiap kegiatan yang diadakan oleh Persana.

Menurut KBBI (1993 : 53) menyatakan bahwa : aspirasi merupakan harapan dan tujuan untuk keberhasilan pada masa yang akan datang. Hal ini sesuai dengan pendapat Adi (1986 : 299) bahwa : aspirasi menunjukkan kepada kerinduan akan hal yang lebih baik atau tinggi tingkatannya, dengan tujuan mencapai kemajuan tertentu. Jadi aspirasi yang dimaksudkan adalah untuk mengetahui apa yang menjadi harapan dan tujuan masyarakat tentang akhlak remaja dimasa datang.

Sementara itu partisipasi adalah : “Hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan keikutsertaan peran serta”. (KBBI, 1993, 650)

Jadi partisipasi adalah peran serta masyarakat dalam meningkatkan akhlak remaja baik dalam bentuk moral maupun material.

Keterkaitan peneliti terhadap masyarakat Matua Hilia adalah disamping Persatuan Santri Anak Nagari baru satu-satunya yang ada di Sumatera Barat juga umumnya masyarakat memiliki aspirasi dan partisipasi yang tinggi terhadap pelaksanaan kegiatan Persana tersebut.

Melihat fenomena yang terjadi pada masyarakat maka peneliti tertarik untuk meneliti : “ Aspirasi dan Partisipasi masyarakat terhadap pembinaan akhlak anak (Kasus pada Persatuan Santri Anak Nagari (PERSANA) Matua Hilia di Kenagarian Matua Hilia Kecamatan Matur Kab. Agam).

B. Fokus Penelitian

Berangkat dari latar belakang yang telah diuraikan diatas maka fokus penelitian ini adalah:

  1. Aspirasi masyarakat dari berbagai kalangan terhadap pembinaan akhlak remaja di Nagari Matua Hilia Kecamatan Matur Kabupaten Agam.
  2. Partisipasi masyarakat dari berbagai kalangan terhadap pembinaan akhlak remaja di Nagari Matua Hilia Kecamatan Matur Kabupaten Agam

C. Tujuan penelitian

Berdasarkan fokus penelitian diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui tentang aspirasi masyarakat dari berbagai kalangan terhadap pembinaan akhlak remaja di Nagari Matua Hilia Kecamatan Matur Kabupaten Agam.
  2. Untuk mengetahui tentang partisipasi masyarakat dari berbagai kalangan terhadap pembinaan akhlak remaja di Nagari Matua Hilia Kecamatan Matur Kabupaten Agam.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:

  1. Pengembangan ilmu pengetahuan dalam rangka menemukan konsep pembinaan akhlak untuk remaja melalui pendidikan non formal.
  2. Memberikan kontribusi kepada pemerintah propinsi dan daerah, khususnya kepada kementrian agama tentang pembinaan akhlak remaja yang dilakukan diluar pendidikan formal.
  3. Memberikan masukan kepada masyarakat tentang bentuk-bentuk yang bisa dilakukan dalam keikut sertaannya membina akhlak remaja.
  4. Sebagai bahan evaluasi bagi universitas tentang pentingnya keikut sertaan Perguruan Tinggi dalam membina masyarakat melalui salah satu Tridharma Perguruan Tinggi yaitu Tridharma Perguruan Tinggi dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN)

E. Defenisi Operasional

Untuk menyamakan penafsiran terhadap istilah-istilah yang ada dalam penelitian ini, maka perlu diuraikan defenisi operasional, untuk beberapa istilah yang dipergunakan dalam penelitian ini. Istilah tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Aspirasi

Aspirasi merupakan harapan dan tujuan untuk keberhasilan pada masa yang akan datang (KBBI, 1993 : 53). Sejalan dengan itu Adi (1986 :299) mengatakan bahwa, “aspirasi menunjukkan pada kerinduan akan hal yang lebih baik akan tinggi tingkatannya dengan tujuan mencapai kemajuan tertentu”.

Berdasarkan defenisi yang telah dikemukakan diatas, maka yang dimaksud aspirasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apa yang menjadi harapan dan tujuan dari masyarakat untuk pembinaan akhlak remaja sehingga mempunyai akhlak yang mulia.

       2.Partisipasi

Menurut KBBI (1993: 650) Partisipasi adalah : “hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan, keikut sertaan peran serta”. Sementara itu Winardi (1979: 323) menyatakan bahwa “partisipasi secara formal di identifikasikan sebagai turut wewenang baik secara mental dan emosional memberikan sumbangsih kepada proses pembuatan dimana keterlibatan secara pribadi orang yang bersangkutan untuk melaksanakan tanggung jawabnya”.

Berdasarkan defenisi diatas maka yang dimaksud dengan partisipasi dalam penelitian ini adalah peran serta masyarakat terhadap pembinaan akhlak remaja baik dalam bentuk langsung maupun tidak langsung, moril dan materil.

       3. Masyarakat

Yang dimaksud masyarakat dalam penelitian ini adalah penduduk yang berdomisili dan menetap di Nagari Matua Hilia baik dari ninik mamak, cerdik pandai, ulama, bunda kandung maupun pemuda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Baca Juga Berita Terkait dengan Artikel ini :