Artikel dari Kategori : Profil

Strategi Pemberdayaan Keluarga Masyarakat Nelayan

Ilpi Zukdi | , 24 Agustus 2013 - 00:00:00 WIB | dibaca: 1654 pembaca

 

Nelayan adalah komunitas masyarakat yang pada umumnya berdomisili disekitar pantai. Masyarakat nelayan yang sumber mata pencahariannya menangkap ikan menghabiskan sebahagian besar aktifitasnya di laut.

Menurut Undang-undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perikanan  menjelaskan bahwa: ”nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan operasi penangkapan ikan atau binatang air lainnya serta tanaman air, termasuk di dalamnya adalah ahli mesin dan juru masak yang bekerja di atas kapal penangkapan ikan juga termasuk nelayan, walaupun mereka secara langsung tidak melakukan operasi penangkapan ikan. Sementara itu orang yang melakukan kegiatan seperti membuat jaring, pancing dan pengangkut perlengkapan ke atas kapal/perahu penangkap ikan tidak dimasukkan kedalam kelompok nelayan”.

Melihat kenyataan yang ada, sebahagian besar nelayan bukanlah pemilik kapal melainkan buruh nelayan/Anak Buah Kapal (ABK) yang menggantungkan hidupnya dengan mengoperasikan armada penangkap ikan milik orang lain, sehingga nasib nelayan dan keluarganya dilihat dari aspek kesejahteraan, pendidikan anak mereka sangat memprihatinkan. Mereka inilah yang disebut nelayan tradisional. Hal ini terlihat dari perbandingan pendapatan pada tabel 1 berikut ini :

Tabel 1

Tingkat Pendapatan Nelayan Pemilik dan Buruh Nelayan/

Anak Buah Kapal dari Hasil Melaut menurut Jenis

Armada Penangkapan Ikan (perbulan)

 

No

Jenis Armada Penangkapan Ikan

Jumlah

(RTP)

Terendah

Tertinggi

Rata-rata

1

Nelayan Pemilik

 

 

 

 

 

a. Payang

21

7.040.000,-

8.580.000,-

7.867.619,05,-

 

b. Jaring

41

1.243.000,-

1.570.000,-

1.432.521.95,-

 

Sub Jumlah (1)

62

 

 

 

2

Buruh Nelayan

 

 

 

 

 

a. Payang

34

979.000,-

1.067.500,-

1.016.852.94,-

 

b. Bagan

55

2.100.000,-

2.625.000,-

2.317.636.36,-

 

c. Jaring

15

990.000,-

1.188.000,-

1.003.420,-

 

d. Pukat Tepi

6

1.344.000,-

1.392.000,-

1.368.000,-

 

e. Pancing

17

1.034.000,-

1.188.000,-

1.108.617.65,-

 Sumber : Analisis Data Primer

Berdasarkan data pada tabel 1 di atas terlihat bahwa nelayan pemilik yang menggunakan armada penangkapan ikan jenis payang, pendapatan terendah perbulan sebesar Rp. 7.040.000,- dan pendapatan tertingginya Rp. 8.580.000,- serta rata-rata perbulan sebesar Rp. 7.867.619.05,-. Sedangkan jenis jaring pendapatan terendah perbulan Rp. 1.243.000,- dam pendapatan tertingginya Rp. 1.570.000,- dengan pendapatan rata-rata perbulan sebesar Rp. 1.432.521.95,-. Bila dibandingkan dengan alat tangkap yang sama maka sebagai buruh nelayan pendapatan mereka jauh dari nelayan pemilik yaitu, untuk payang pendapatan terendah perbulan hanya Rp. 979.000,-  dan tertinggi Rp. 1.067.500,- dengan rata-rata perbulan hanya Rp. 1.016.852.94.- Dengan demikian terdapat selisih pendapatan rata-rata perbulan sebesar Rp. 6.850.766.15,-  atau 88,56 persen pendapatan dikuasai oleh nelayan pemilik. Sementara itu jenis alat tangkap jaring pendapatan terendah buruh nelayan perbulan sebesar Rp. 990.000,- tertinggi Rp. 1.188.000,- dengan pendapatan rata-rata perbulan sebesar Rp. 1.003.420,-. Hal ini berarti 58.81 % pendapatan dimiliki oleh nelayan pemilik.

Pada nelayan tradisional ini melekat stigma yaitu: miskin, terbelakang, boros, rendahnya kesadaran dalam beragama, rendahnya kesadaran orang tua dalam menyerahkan anak-anaknya dalam pendidikan, dan lain-lain. Firwantan (Harian Singgalang, Kamis 11 April 2013) dalam tulisannya dengan judul Kondisi Sosial Ekonomi Nelayan di Sumatera Barat Memprihatinkan, bagian kedua dari dua tulisan mengemukakan, dari hasil penelitian dengan wawancara mendalam ditemukan bahwa, “sebagian besar nelayan, terutama nelayan tradisional yang berstatus buruh menghadapi kesulitan yang lebih besar untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka sehari-hari dibandingkan nelayan juragan/toke, nelayan tambak dan nelayan penangkap”. Lebih lanjut Firwantan menjelaskan bahwa terjadinya masalah tersebut disebabkan terdapat beberapa masalah esensial yang belum terselesaikan yaitu :

1. Penghasilan yang kurang memadai

2. Keterbatasan akses dan modal usaha

3. Adanya ketimpangan dalam  sistem bagi hasil

4. Bantuan yang kurang merata, kurang tepat guna dan terbatas

5. Masih kurangnya pembinaan dan bimbingan tekhnis yang didukung oleh system tata kelola yang relevan

Pemerintah sebetulnya sudah memberikan perhatian yang cukup besar terhadap kehidupan nelayan. Hal ini terlihat dari misi pembangunan kelautan dan perikanan yaitu: ”mensejahterakan masyarakat kelautan dan perikanan”. Kesejahteraan tersebut ditimbulkan dengan peningkatan  pendapatan rumah tangga.

Berbagai program telah dilaksanakan  oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk tercapainya misi tersebut. Sekarang pemerintah mencanangkan industrialisasi perikanan yang didukung oleh kawasan minapolitan. Pencanangan terhadap program tersebut tidak serta merta merubah nasib nelayan tradisional. Dengan menitik beratkan program pembangunan  perikanan pada pertumbuhan ekonomi dengan jalan program industrialisasi perikanan tangkap, pada umumnya hanya dinikmati oleh perusahaan perikanan tangkap skala besar saja. Sementara itu nelayan tradisional/skala kecil sangat sedikit sekali menikmati program tersebut walaupun diprioritas diarahkan kepada mereka,  sehingga kehidupan mereka tetap dalam ketidakberdayaan karena miskin. Nelayan skala kecil/tradisional  inilah yang mendominasi nelayan yang ada di Indonesia pada umumnya dan Sumatera Barat khususnya tidak terkecuali Kota Padang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Padang tahun 2011 bahwa jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) di Kota Padang tahun 2010 sebanyak 6898 dengan armada penangkapan ikan sebanyak 1617 unit yang terdiri kapal motor 365 unit, motor tempel berjumlah 1156 unit dan perahu tanpa motor sebanyak 96 unit. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini :

 

Tabel 2

Jumlah Armada Penangkapan Ikan (unit) yang terdapat di Kota Padang

menurut Jenis pada masing-masing Kecamatan Pada Tahun 2010

 

 

No

 

Kecamatan

Perahu tanpa motor

Motor temple

Kapal Motor

 

Jumlah

 

 

Jml

%

Jml

%

Jml

%

 

 1

Bungus Teluk Kabung

18

5,68

246

77,60

53

16,72

317

2

Lubuk Begalung

26

14,05

111

60,00

48

25,95

185

3

Padang Selatan

5

1,49

144

42,86

187

55,65

336

4

Padang Barat

15

7,85

176

92,15

-

0,00

191

5

Padang Utara

17

7,52

209

92,48

-

0,00

226

6

Koto Tangah

15

4,14

270

74,59

77

21,74

362

 

Jumlah 2010

96

5,94

1156

71,49

365

22,57

1617

 

Jumlah 2009

103

 

1095

 

352

 

1550

 

Jumlah 2008

74

 

1107

 

345

 

1526

 

Jumlah 2007

264

 

829

 

448

 

1541

 

Jumlah 2006

154

 

645

 

476

 

1284

 

    Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Padang (2011)

 

Berdasarkan data di atas terlihat sebanyak 5281 rumah tangga nelayan merupakan buruh nelayan yang mau tidak mau hidupnya bergantung kepada nelayan pemilik. Kondisi ini hampir sama pada setiap Kabupaten/Kota yang terletak dipinggir pantai seperti, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman dan Pasaman Barat Serta Agam.

Dengan menggantungkan hidup kepada nelayan pemilik, maka kondisi ekonomi keluarga selalu dililit oleh ketidakcukupan dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, sehingga mereka tetap dalam keadaan miskin.

Dalam mengatasi keterbatasan ekonomi tersebut, para keluarga nelayan khususnya para istri/wanita pada masyarakat nelayan mempunyai peranan yang cukup besar dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zein tahun 1998 menemukan bahwa secara umum dalam masyarakat nelayan di kawasan pesisir, wanita memegang peranan yang sangat penting untuk ikut serta menjaga kelangsungan hidup rumah tangganya disamping mempunyai tanggung jawab urusan rumah tangga dengan ikut membantu secara aktif mencari nafkah. Hasil penelitian Saidan (1998) juga menemukan bahwa peranan wanita nelayan cukup besar terhadap tambahan pendapatan rumah tangga nelayan di Kota Padang dan jenis pekerjaan juga bervariasi. Sementara itu hasil penelitian Aryanti (1994) menyimpulkan bahwa ada kecendrungan peran wanita sebagai pencari nafkah semakin tinggi. Peran ini bukan untuk meningkatkan karir tetapi semata-mata untuk kelangsungan hidup keluarga . Hal ini dibuktikannya jika pendapatan suami meningkat, maka curahan kerja istri untuk mencari nafkah menurun.

Salah satu usaha yang dilakukan oleh para istri/keluarga nelayan adalah dengan melakukan usaha off-fishing. Off-fishing menurut Elfindri (2002) dikembangkan dari definisi off-farm pada sektor pertanian yaitu orang yang bekerja pada sektor pertanian tetapi bukan sebagai petani, misalnya: pengolahan hasil pertanian, perdagangan dan jasa disebut dengan off-farm employment. Istilah off-farm employment belum banyak dikenal pada sektor perikanan. Rumah tangga nelayan yang bekerja di luar penangkapan ikan tetapi masih mempunyai kaitan dengan perikanan disebut dengan off-fishing employment, sedangkan jenis usaha yang dilakukan disebut dengan off-fishing, seperti pengolahan hasil perikanan, pedagang ikan dan jasa yang bergerak sebagai pendukung operasional penangkapan ikan.

Lebih lanjut Elfindri  membagi dua macam jenis lapangan pekerjaan bagi rumah tangga nelayan yaitu pertama: lapangan usaha di luar penangkapan ikan tetapi masih berkaitan dengan usaha penangkapan ikan tersebut. Usaha yang umum dilakukan yaitu dengan memanfaatkan muatan lokal berupa pasca panen hasil perikanan, jenis usaha yang dilakukan berupa pengolahan ikan teri, aneka olahan hasil perikanan, usaha ikan belah dan perdagangan hasil perikanan, pengolahan ikan atau industri hasil perikanan, jenis pekerjaan tersebut disebut off-fishing. Kedua lapangan pekerjaan di luar sektor perikanan atau tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan usaha perikanan, jenis pekerjaan ini disebut non-fishing.

Berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan, jenis usaha off-fishing yang dilakukan oleh rumah tangga nelayan skala kecil dapat dikelompokkan kepada empat macam, yaitu :

1. Ikan teri kering asin

2. Ikan teri kering tawar

3. Pedagang ikan

4. Pengolahan ikan

Salah seorang nelayan bernama Ayah yang peneliti wawancarai pada tanggal 7 Maret 2013 di Sungai Pisang menerangkan bahwa nelayan skala kecil tidak satupun yang melakukan usaha off-fishing pada ikan belah dan semuanya dilakukan oleh nelayan pemilik, hal ini disebabkan nelayan pemilik tidak memberi kesempatan kepada buruh nelayan karena keuntungannya relatif besar. Sementara itu pedagang ikan semuanya adalah buruh nelayan dan tidak ada satupun yang nelayan pemilik . Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Evyet Nazmar (2013) tingkat pendapatan ruah tangga nelayan yang melakukan off-fishing tergambar dalam tabel 3 berikut ini:

Tabel 3

 

Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Buruh Nelayan yang melakukan

usaha off-fishing

 

No

Jenis Off-fishing

Jml RTP

Terendah

Tertinggi

Rata-rata

1

Ikan teri kering asin

75

1.435.000,-

7.325.000,-

2.586.360,

2

Ikan teri kering tawar

30

1.520.000,-

2.960.000,-

2.093.600,

3

Aneka pengolahan ikan

16

1.640.000,-

2.800.000,-

2.425.625,

4

Pedagang ikan

6

840.000,-

1.450.000,-

1.301.666,67

 

Jumlah

127

 

 

 

 

 

Dari data yang telah dijelaskan pada tabel 3 di atas dapat diketahui bahwa usaha off-fishing mempunyai peranan yang cukup besar dalam memenuhi kehidupan keluarga para nelayan.

Melalui rekomendasi kebijkan dan model pengembangan usaha off fishing, maka  keluarga masyarakat nelayan dapat memanfaatkan usaha off fishing untuk memberdayakan keluarga masyarakat nelayan.



Baca Juga Berita Terkait dengan Artikel ini :