Artikel dari Kategori : Profil

Tujuan Belajar

Ilpi Zukdi | , 22 September 2011 - 00:00:00 WIB | dibaca: 1855 pembaca

TUJUAN BELAJAR

Setiap proses belajar mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Pencapaian tujuan belajar akan dapat dilakukan bila terciptanya system lingkungan belajar yang kondusif. Dengan kata lain, untuk mencapai tujuan belajar tertentu harus diciptakan system lingkungan belajar yang tertentu pula. Tujuan belajar untuk pengembangan nilai afeksi memerlukan penciptaan system lingkungan yang berbeda dengan system yang dibutuhkan untuk tujuan belajar pengembangan gerak, dan begitu seterusnya.

Pada dasarnya dengan blajar diharapkan kemampuan siswa bisa meningkat. Ranah kognitif, afektif dan psikomotor siswa semakin berfungsi. Dimyati dan Mudjiono (1994:22) memberikan illustrasi bahwa pada ranah kognitif, siswa dapat memiliki pengetahuan pemahaman, dapat menerapkan, melakukan analisis, sintesis dan mengevaluasi. Pada ranah afektif, siswa dapat melakukan penerimaan, partisipasi, menentukan sikap, mengorganisasi dan membentuk pola hidup. Pada ranah psikomotorik, siswa dapat mempersepsi, bersiap diri, membuat gerakan-gerakan sederhana dan komplek, membuat penyesuaian pola gerak dan menciptakan gerak-gerak baru.

Menurut Sardiman (1990:28) tujuan belajar itu sebenarnya sangat banyak dan bervariasi, namun bila dirangkum dan ditinjau secara umum, maka tujuan belajar tersebut dapat dibagi kepada tiga jenis :

a.       Untuk mendapatkan pengetahuan. Hal ini ditandai dengan kemampuan berfikir. Pemilikan pengetahuan dan kemampuan berfikir sebagai suatu yang tidak terpisah. Dengan kata lain siswa tidak dapat mengembangkan kemampuan berfikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berfikir akan memperkaya pengetahuan

b.      Penanaman konsep dan ketrampilan. Perumusan terhadap konsep memerlukan suatu ketrampilan, baik ketrampilan yang bersifat jasmani maupun rohani. Ketrampilan jasmani adalah ketrampilan yang dapat dilihat, diamati, sehingga akan menitik beratkan pada ketrampilan gerak/penampilan dari anggota tubuh seseorang yang sedang belajar. Sementara itu ketrampilan rohani lebih rumit, karena tidak selalu berkaitan dengan masalah-masalah ketrampilan yang dapat dilihat bagaimana awal dan akhirnya, tetapi lebih abstrak, menyangkut kepada persoalan-persoalan penghayatan dan ketrampilan berfikir serta kreatifitas untuk menyelesaikan dan merumuskan suatu masaalah atau konsep.

c.       Pembentukan sikap. Dalam menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi warga belajar, pendidik harus lebih bijaksana dan hati-hati dalam pendekatannya.

Dari penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan, untuk mencapai tujuan belajar dibutuhkan aktivitas-aktivitas yang mengarah kepada tujuan belajar tersebut.



Baca Juga Berita Terkait dengan Artikel ini :